Home > Medical News > Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian ISPA

Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian ISPA

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA BAYI 0 – 12 BULAN

Studi Analitik Observasional di Posyandu Tegal Timur Kota Tegal

Yanuar Ariefudin* , Sri Priyantini^, Ophi Indria Desanti#

* Medical Faculty of Sultan Agung Islamic University (Unissula) Semarang
^ Departement of Pediatric Medical Faculty of Sultan Agung Islamic University (Unissula) Semarang
# Departement of Public Health Medical Faculty of Sultan Agung Islamic University (Unissula) Semarang

ABSTRACT

Acute Respiratory Infections (ARI) is one of primary public health problem. The incidence of ARI causes 4 of 15 million estimated death in children under 5 years old annually and as many as two-thirds of these deaths occur in infants. Breastfeeding in Indonesia has not fully implemented. Breastfeeding mother has a relatively poor knowledge on the importance of exclusive breastfeeding. The purpose of this study is to determine the comparation of exclusive breastfeeding against ARI incidence in infants aged 0-12 months in the posyandu East Tegal District, Tegal.

This is an analytical observational study using cross sectional design. The study sample consisted of 154 infants of 75 male and 79 female. The data on exclusive breastfeeding and ARI were acquired using questionnair. Chi-Square test was applied to analyze the data.

The research showed that among 72 infants (46.8%) who were exclusively breastfed, there were 56 infants (36.4%) suffered from rare ARI and 16 infants (10.4%) suffered from frequent ARI. While among the 82 infants (53.2%) who were not exclusively breastfed, 50 infants (32.4%) suffered from frequent ARI, and only 32 infants (20.8%) suffered from rare ARI. The Chi-Square test resulted in p-value of 0.000 (p <0.05) meaning significant comparation.

In conclusion, there is a significant comparation of exclusive breastfeeding against ARI in infants aged 0-12 months in the posyandu East Tegal District, Tegal.

Keywords: exclusive breastfeeding, Acute Respiratory Infection, Infant

Pendahuluan

Latar belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per tahun (Yamin dkk, 2007). WHO (2003) menuturkan, ISPA merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak di negara yang sedang berkembang. Infeksi saluran pernafasan akut ini menyebabkan 4 dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya dan sebanyak dua pertiga dari kematian tersebut terjadi pada bayi.

ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian karena ISPA, terutama pada bayi dan anak balita. Setiap tahunnya 40% – 60% dari kunjungan di Puskesmas ialah penderita penyakit ISPA. Seluruh kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA ini mencapai 20 – 30% (Purnomo, 2008). Angka kejadian ISPA di Jawa Tengah pada tahun 2007 mencapai 18,45% (Profil Kesehatan Indonesia, 2007).

Di Indonesia, pemberian ASI eksklusif belum dilaksanakan sepenuhnya. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kesadaran akan pentingnya ASI eksklusif. Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13%, sedangkan di pedesaan 2%-13% (Depkes, 2005). Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Jawa Tengah (2006) menunjukkan cakupan pemberian ASI Eksklusif hanya sekitar 28,08%, terjadi sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2005 yang mencapai 27,49%.

Di negara-negara berkembang, bayi yang mendapat ASI eksklusif mempunyai angka kesakitan dan kematian yang secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan susu formula (Suharyono, 2001). Terdapat pengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi, di mana lebih tinggi pada bayi yang diberikan susu formula dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI. ASI juga terbukti memberikan efek protektif 39,8% terhadap ISPA pada bayi umur 0 – 4 bulan (Abdullah, 2003).

Melihat tingginya angka kejadian ISPA dan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif, maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi usia 0-12 bulan di kecamatan Tegal Timur Kota Tegal. Lokasi penelitian yang dipilih ialah kecamatan Tegal Timur karena ibu-ibu di wilayah Tegal Timur sebagian besar ikut bekerja mencari nafkah, mengingat data mata pencaharian kecamatan Tegal Timur Kota Tegal adalah buruh, PNS dan swasta (Pemerintah Kota Tegal, 2009). Menurut harian Kompas (26/5/2009), secara keseluruhan sebanyak 30.000 orang pekerja di Kota Tegal yang tersebar di 444 perusahaan, lebih dari 60% merupakan perempuan. Sedangkan mata pencaharian sebagian besar laki-laki ialah buruh bangunan, PNS dan nelayan (Pemerintah Kota Tegal, 2009). Penelitian dilakukan di perkotaan mengingat di sebagian besar wilayah perkotaan, ASI sudah diganti dengan susu formula.

Tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui adanya hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada bayi usia 0-12 bulan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan ibu-ibu pada khususnya tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap penurunan kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada bayi usia 0-12 bulan. Selain itu hasil penelitian ini juga diaharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan pendekatan cross sectional.. Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik non parametrik Chi-Square.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi usia 13-24 bulan di kecamatan Tegal Timur Kota Tegal. Dari populasi tersebut diambil sampel 154 bayi yang didapatkan dari perhitungan menggunakan rumus dari Sastroasmoro (2002).

Alat pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data pada saat penelitian dilakukan dengan teknik wawancara. Kemudian kuesioner yang telah dikumpulkan dicek dan diperiksa kelengkapannya oleh peneliti untuk diolah dan dianalisis.

Lokasi penelitian dilakukan di beberapa posyandu yang tersebar di Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal. Penelitian ini dilakukan 9 Desember – 23 Desember 2009.

Hasil Penelitian

Tabel 1. Hasil Tabulasi Silang Antara Pemberian ASI eksklusif dengan Kejadian ISPA di Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal

Pemberian ASI Kejadian ISPA Jumlah
Sering Jarang
ASI eksklusif 16 (10,4%) 56 (36,4%) 72 (46,8%)
ASI non eksklusif 50 (32,4%) 32 (20,8%) 82 (53,2%)
Jumlah 66 (42,8%) 88 (57,2%) 154 (100%)

Hasil dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa keseluruhan sampel yang berjumlah 154 bayi menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 16 bayi (10,4%), sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 56 bayi (36,4%). Dan bayi yang diberi ASI non eksklusif yang mengalami ISPA sering sebanyak 50 bayi (32,4%), dan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 32 bayi (20,8%).

Hasil Uji hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada bayi 0-12 bulan dengan menggunakan uji Chi-Square Test menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada bayi 0-12 bulan p = 0,000 (p < 0,05). (Lihat Tabel 2)

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada bayi 0-12 bulan di posyandu Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal, dapat diketahui dari 154 responden bayi menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 16 bayi (10,4%), sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 56 bayi (36,4%). Dan bayi yang diberi ASI non eksklusif yang mengalami ISPA sering sebanyak 50 bayi (32,4%), dan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 32 bayi (20,8%). Sedangkan hasil penelitian Abdullah (2003) menunjukkan bahwa dari 328 responden bayi menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 28 bayi, sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 76 bayi. Dan bayi yang diberi ASI non eksklusif yang mengalami ISPA sering sebanyak 236 bayi, dan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 88 bayi.

Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa pada bayi yang diberi ASI eksklusif ternyata didapatkan pula bayi yang sering menderita ISPA. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor. Misalnya adalah vitamin A, orang tua yang merokok dan status sosial ekonomi keluarga. Disamping diberikan ASI yang memang mengandung vitamin A, harus dilakukan pula perbaikan terhadap defisiensi vitamin A untuk mencegah ISPA pada bayi. Orang tua yang merokok juga mampu memengaruhi kerentanan kejadian ISPA pada bayi. Begitu juga dengan status ekonomi keluarga. Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah mempunyai resiko lebih besar mengalami ISPA, karena meskipun diberikan secara eksklusif, namun kandungan ASI yang diberikan kepada bayi kurang memenuhi syarat dikarenakan asupan nutrisi ibu yang kurang pula sehingga imunitas yang terkandung di dalam ASI kurang optimal. Demikian juga sebaliknya bahwa pada bayi yang diberi ASI non eksklusif didapatkan bayi yang jarang menderita ISPA. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor. Misalnya adalah lingkungan yang ditempati oleh bayi yang bersangkutan hanya ada sedikit polusi udara, gaya hidup orang tua yang sehat dengan tidak merokok, pemenuhan gizi yang cukup dalam keluarga, dan imunitas pada bayi itu sendiri (Wantania, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada bayi 0-12 bulan di posyandu Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal, terdapat hubungan di mana lebih tinggi kejadian ISPA pada bayi yang diberikan ASI non eksklusif dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Abdullah (2003) di Kota Palu ibu kota propinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Hendarto dan Pringgadini (2009) tumbuh kembang dan daya tahan tubuh bayi lebih baik jika mengonsumsi ASI. Vitamin A dan zinc, yang ada pada kolostrum ASI berfungsi untuk kekebalan tubuh bayi. ASI tidak hanya mengandung vitamin A dalam jumlah tinggi, namun juga bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan tumbuh kembang dan daya tahan tubuh bayi lebih baik jika mengonsumsi ASI. Mineral zinc dalam ASI dibutuhkan oleh bayi karena merupakan mineral yang banyak membantu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Kandungan zinc di dalam tubuh yang rendah akan menyebabkan sistem imun tubuh terganggu sehingga tubuh tidak bisa mengenali dan memerangi penyakit infeksi tertentu (Depkes RI, 2001; Tatar, 2008). Sedangkan Bronchus-Associated Lymphocyte Tissue (BALT) merupakan antibodi saluran pernapasan, dan IgA sekretori di dalam ASI merupakan antibakterial dan antivirus terhadap bakteri maupun virus yang dapat menginfeksi saluran pernapasan. Imunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum pada ASI kadarnya cukup tinggi. SIgA dapat mengaktifkan sistem komplemen melalui jalan alternatif dan bersama-sama dengan makrofag dapat memfagositosis berbagai kuman. Dengan rangsangan yang spesifik akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap Streptococcus pneumonia, Stafilokokkus, Hemofilus influenza dan berbagai eksotoksin lainnya. IgA sekretori tidak hanya sebagai antibakterial, tetapi juga merupakan antivirus terhadap virus influenza dan Respiratory Syncytial Virus (RSV) (Depkes RI, 2001; Soetjiningsih, 1997). Pertumbuhan virus parotitis, influenza, vaksinia, rotavirus, dan virus ensefalitis japanese B juga dihambat dengan bahan-bahan yang ada dalam ASI (Behrman, 2000).

Simpulan

- Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi usia 0-12 bulan.

- Bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 16 bayi (10,4%), sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 56 bayi (36,4%).

- Bayi yang diberi ASI non eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 50 bayi (32,4%), sedangkan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 32 bayi (20,8%).

Saran

- Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu masukan atau informasi dalam meningkatkan program pemberian ASI eksklusif untuk menurunkan kejadian ISPA di Kota Tegal, maupun di wilayah lain.

- Perlunya peningkatan publikasi program Peningkatan Penggunaan ASI (PP-ASI) secara eksklusif kepada masyarakat terutama ibu-ibu tentang manfaat pemberian ASI eksklusif kepada bayi untuk mencegah kejadian ISPA, sekaligus guna mencapai target yang ditetapkan Dinkes Povinsi Jawa Tengah, yaitu pencapaian ASI Eksklusif di Kota Tegal sebesar 80 % pada tahun 2010.

- Perlu dilakukan studi lanjutan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA dengan menggunakan rancangan penelitian cohort.

Daftar Pustaka

Abdullah. 2003. Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kasus ISPA pada Bayi Umur 0 – 4 Bulan. Perpustakaan Universitas Indonesia. http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=77715. Dikutip tgl 06.05.2009

Baratawidjaja, K. G., 2004. Antigen dan Antibodi. Imunologi Dasar Edisi Keenam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Behrman, K. & Arvin, N., 2000. Pemberian Makan Bayi dan Anak. Ilmu Kesehatan Anak, Vol.1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 192

Dahlan, M. S., 2006. Statistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan. PT. Arkans. Jakarta.

Dahlan, M. S., 2006. Besar Sampel Dalam Penelitia Kedokteran dan Kesehatan. PT. Arkans. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2001. Keunggulan ASI dan Manfaat Menyusui, http://www.gizi.net/asi/down-load/-KEUNGGULAN-%20ASI%20DAN%20MANFAAT%20MENYUSUI.doc. Dikutip tgl 06.05.2009

Departemen Kesehatan RI, 2005. Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2007. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2006. Profil Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. Semarang.

Handayani, D. S. 2007. Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian ASI Eksklusif Berdasarkan Karakteristik Ibu di Puskesmas Sukawarna Kota Bandung. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.

Hendarto, A. & Pringgadini, K., 2009. Nilai Nutrisi Air Susu Ibu. Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://www.idai.or.id/asi.asp Dikutip tgl 13.10.2009

Ilmu Kesehatan Anak, 2000. Pengaturan Makan Untuk Bayi dan Anak Sehat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 320

Indriasari, L. 2007. Imunisasi Versus Penyakit. Kompas Cyber Media. http://202.146.5.33/ver1/Keluarga/0701/28/161134.htm Dikutip 09.11.2009

John, T. J., Cherian, T., Steinhoff, M. C., Simoes, E. A. F., and John, M., 1991. Etiology of Acute Respiratory Infections in Children in Tropical Southern India. Reviews of Infectious Diseases, Vol. 13, Supplement 6. Bellagio Conference on the Pathogenesis and Prevention of Pneumonia in Children in Developing Regions. The University of Chicago Press.

Lisal, J. S., 2009. ASI dan Susu Buatan. Sub Bagian Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Makassar.

Maharani. 2008. ASI Berkah Tuhan Untuk Manusia. http://dr-anak.com/asi-berkah-tuhan-untuk-manusia.html Dikutip tgl 14.10.2009

Manajemen Gizi Buruk, 2005. Pelatihan TOT Fasilitator PKD Bagi Fasilitator Gizi Kabupaten.

Markum, A.H., 1999, Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak.  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Matondang, C.S., Munasir, Z., Sumadiono. 2008. Aspek Imunologi Air Susu Ibu. Buku Ajar Alergi Imunologi Anak Edisi Kedua. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.

Nindya, T. S. & Sulistyorini, L., 2005. Hubungan Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Anak Balita. Universitas Airlangga. http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-05.pdf Dikutip tgl 26.10.2009

Nurbiajanti, S. 2009. Buruh Didominasi Perempuan di Kota Tegal. http://www.kompas.com/read/xml/2009/05/26/20503396/buruh.didominasi.perempuan.di.tegal Dikutip tgl 10.11.2009

Pardede, L. V. 2008. Breastfeeding and Food Security. WABA Activity Sheet 10. http://www.gizi.net/makalah/ASI%20dan%20Ketahanan%20Pangan1.pdf Dikutip tgl 20.10.2009

Pemerintah Kota Tegal, 2009. Kecamatan Tegal Timur. http://www.tegalkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=45:kecamatan-tegal-timur&catid=28:kecamatan Dikutip tgl 09.11.2009

Purnomo, W. 2008. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Dengan Upaya Pencegahan ISPA Pada Balita di Puskesmas Ngoresan Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Sastroasmoro, S. dan Sofyan I., 2002. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi Ke-2. Sagung Seto. Jakarta.

Sidi, I.P.S., Suradi, R., Masoara, S., Boedihardjo, S.D, Marmoto, W., 2004, Manfaat dan Keunggulan ASI. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, cetakan ke 2, Perkumpulan Perinatologi Indonesia, Jakarta, 11.

Soetjiningsih, 1997. ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Suhandayani, I. 2007. Faktor – faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Pati I Kabupaten Pati Tahun 2006. Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang, Semarang

Suharyono, 2001. Diare Akut, Klinik dan Laboratorik. PT Rineka Cipta, Jakarta, 38

Suradi, R. 2008. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 385

Tatar, E. 2008. Manfaat Zink Untuk Kesehatan Si Kecil. http://my.opera.com/tarndang/blog/index.dml/tag/manfaat%20zinc dikutip tgl 21.10.2009

Wahyono, D., Hapsari, I., Astuti, I. W. B., 2008. Pola Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Anak Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Rawat Jalan di Puskesmas I Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara Tahun 2004. Majalah Farmasi Indonesia 19 (1).

Wantania, J.M., Naning, R., Wahani, A. 2008. Infeksi Respiratori Akut. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.

WHO. 2003. Penanganan ISPA Pada Anak di Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Yamin, A., Raini D. S.,Wida, S., 2007. Kebiasaan Ibu Dalam Pencegahan Primer Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Pada Balita Keluarga Non Gakin Di Desa Nanjung Mekar Wilayah Kerja Puskesmas Nanjung Mekar Kabupaten Bandung. Universitas Padjajaran. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/07/kebiasaan_ibu.pdf. dikutip tgl 13.10.2009

Karya yang dimuat di blog ini adalah naskah publikasi. Naskah lengkap bisa diperoleh di perpustakaan Fakultas Kedokteran Unissula.

Terima kasih saya haturkan kepada :

dr. Sri Priyantini M., Sp. A dan dr. Ophi Indria Desanti, MPH sebagai dosen Pembimbing I dan II yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan arahan serta petunjuk hingga akhir penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

dr. Azizah Retno K., Sp. A dan dr. Hj. Andriana, Sp. THT, Msi. Med sebagai penguji I dan II atas masukan dan arahan yang telah diberikan dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

About these ads
Categories: Medical News
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,089 other followers

%d bloggers like this: