Home > BAI - FULDFK > (usulan) BAB Manajemen Dakwah Profesi

(usulan) BAB Manajemen Dakwah Profesi

Program RMDN FULDFK Indonesia
Oleh: Yanuar Ariefudin
Dept. Pengembangan dan Kaderisasi FULDFK Indonesia

Pendahuluan

Saat masih menjadi mahasiswa, dakwah terkesan lebih mudah daripada ketika menjadi dokter muda, atau bahkan setelah menjadi dokter (baik dokter umum maupun dokter spesialis). Kampus merupakan medan dakwah yang memiliki ragam corak pemikiran. Baik itu pemikiran Islam maupun pemikiran yang bukan berasal dari Islam. Namun medan dakwah ini yang notebene terdiri dari kaum intelektual terlihat mudah digarap ketimbang menggarap komunitas profesi. Hal ini disebabkan oleh keberadaan institusi dakwah disertai dengan masifnya pergerakan dakwah yang mengemban misi organisasinya di kampus. Ketika dakwah dilakukan secara berjamaah, akan lebih ringan daripada dakwah secara individu. Berbeda ketika dihadapkan dengan medan dakwah profesi. Dakwah profesi menuntut individu untuk bergerak. Olehkarenanya sebelum mahasiswa terjun ke dunia dakwah profesi, perlu kiranya diadakan pembekalan pada diri individu untuk mencetak dokter-dokter berkepribadian muslim yang nantinya mampu menjadi pematik dan penggerak bagi komunitas profesi di sekitarnya. Di sinilah peran MMLC (Muslim Management and Leadership Camp) yang diharapkan mampu mendidik (mentarbiyah) untuk fase awal pengkaderan.

Membangun Kepribadian Islam

Kepribadian  manusia terbentuk oleh pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Bentuk tubuh, wajah, keserasian fisik dan sebagainya bukan unsur pembentuk kepribadian. Pola pikir Islam (Aqliyah Islamiyah) adalah jika seseorang selalu berlandaskan aqidah Islam dalam memikirkan sesuatu hal dalam upaya mengambil suatu keputusan. Sehingga jika landasannya bukan Islam, maka pola pikirnya merupakan pola pikir yang lain. Sedangkan pola sikap Islami (Nafsiyah Islamiyah) adalah jika seseorang dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan nalurinya berdasarkan Islam. Jika pemenuhan tersebut tidak dilakukan dengan cara seperti itu, maka pola sikapnya merupakan pola sikap yang lain. Tidaklah cukup jika kepribadian Islam hanya tercermin pada pola sikapnya yang Islami, sementara pola pikirnya tidak. Karena nantinya malah beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Misalnya, kita berpuasa pada hari yang diharamkan. Bisa juga kita bersodaqoh dengan riba, dengan anggapan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain, sebenarnya melakukan kesalahan tetapi menyangka telah melakukan kebajikan. Akibatnya, dalam memenuhi tuntutan naluri (gharizah) dan kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini kesalahan yang banyak terjadi di sekitar kita. Sesungguhnya kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus, kecuali jika pola pikir orang tersebut adalah pola pikir Islami dan pola sikapnya adalah pola sikap Islami.

Dokter yang berkepribadian Islami bukan berarti didalam dirinya tidak pernah ada kesalahan. Tetapi (kalau ada), kesalahan tersebut tidak akan mempengaruhi kepribadiannya selama kesalahanya bukan perkara pangkal, melainkan pengecualian (kadang terjadi, kadang tidak). Alasannya, karena manusia bukanlah malaikat. Dia bisa saja melakukan kesalahan, lalu memohon ampunan dan bertaubat. Bisa juga dia melakukan kebenaran, lalu memuji Allah atas kebaikan, karunia, dan hidayah-Nya.

Poin kepribadian seorang muslim seperti yang disampaikan oleh Hasan al-Banna yaitu, Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ibadah), akhlak yang baik (matinul khuluq), kekuatan jasmani (qowiyyul jismi), intelek dalam berfikir (mutsaqqal fikri), bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi), pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi), teratur dalam segala urusan (munazhzhamun fi syuunihi), mandiri (qadirun ala kasbi), bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi), kesemuanya harus sesuai dengan parameter syariah. Contoh sederhana, seorang dokter dengan keahliannya mengobati orang sakit dituntut selalu menjaga kerahasiaan rekam medis pasiennya. Hal ini belum dapat dikatakan dokter yang berakhlak baik ketika dokter tersebut hanya menjaga rahasia medis atas dasar kemanusiaan dan atas dasar etika profesi dokter. Namun dokter bisa dikatakan berakhlak baik ketika dokter yang bersangkutan meyakini dengan betul bahwa menjaga rahasia adalah perintah syariat Islam. Dengan keyakinan inilah maka predikat baik bisa didapat. Karena parameter baik atau tidak baik dengan neraca yang pasti, yakni syariah Islam.

Dakwah profesi merupakan dakwah tahap lanjutan dari fase dakwah kampus. Pada fase inilah idealisme yang dulu terhujam dengan kuat di dada para aktivis dakwah akan diuji. Keimanan menjadi modal utama untuk merealisasikan pendidikan (tarbiyah) dan persaudaraan (ukhuwah) di medan dakwah yang sangat berbeda dari medan dakwah kampus yang dulu pernah digeluti. Baik itu berbeda dari segi lingkungan, budaya, maupun berbeda dari segi  individu-individunya.

Bersambung ke :

Arahan Manajemen Dakwah Profesi (Insya Allah…)

Referensi :

1.        BKLDK Nasional. Materi Dasar Islam Dari Akar Sampai ke Daunnya. Dakwahkampus.com
2.        GAMAIS ITB. 2007. Risalah Manajemen Dakwah Kampus.
3.        Hasan al-Banna. 10 Muwashofat Muslim. Al-ikhwan.net
4.        Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah. 2004. HTI Press. Jakarta

Hanya ingin berbagi agar bisa lebih bermanfaat daripada disimpan di kantong sendiri. Tulisan ini hanya usulan BAB Dakwah Profesi yang diamanahkan oleh Dept. P dan K kepada saya. Belum resmi diterima atau tidak.

Categories: BAI - FULDFK
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: