Home > BAI - FULDFK > (usulan) BAB Manajemen Dakwah Profesi – Bagian 3

(usulan) BAB Manajemen Dakwah Profesi – Bagian 3

Program RMDN FULDFK Indonesia
Oleh: Yanuar Ariefudin
Dept. Pengembangan dan Kaderisasi FULDFK Indonesia

Fokus Perjuangan Dakwah Profesi

Selain tugas utama yang perlu menjadi titik fokus perjuangan para dokter (baik dokter muda, dokter umum maupun dokter spesialis), fokus berikutnya yaitu menjadikan dakwah profesi sebagai lahan untuk mewujudkan Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam gerak dakwah profesi untuk mewujudkannya yaitu :

1.      Fokus Bergerak, Bukan Fokus Berdebat

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu ada perbedaan sudut pandang perjuangan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat. Hal ini tidak perlu ditanggapi dengan serius ketika sinergi dakwah difokuskan untuk menyelamatkan jiwa pasien dan menyelamatkan aqidahnya. Pada kondisi inilah ukhuwah Islamiyah antar para dokter muslim diuji. Serendah-rendahnya ikatan ukhuwah Islamiyah adalah berbaik sangka (husnuzhan) kepada saudaranya dan setinggi-tingginya ikatan ukhuwah ialah mengutamakan kepentingan saudaranya (itsar). Lakukan pergerakan dan fokus untuk bergerak. Hindari perdebatan yang pada akhirnya masalah yang sebetulnya bisa diselesaikan tepat waktu malah terlambat. Seperti kata pepatah, “tong kosong nyaring bunyinya”.

Imam Hasan al-Banna berkata, “Ukhuwah yaitu terikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mahal, dan ukhuwah adalah saudara keimanan, sementara perpecahan adalah teman dari kekufuran. Kekuatan yang utama adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta, dan cinta paling rendah adalah berbaik sangka, sementara yang paling tinggi adalah itsar”

Maka dari itu, sifat pengemban dakwah seharusnya selalu berlomba-lomba dalam hal kebaikan (fastabiqul khairat), bukan malah saling menghalangi dakwah saudaranya.

2.      Menjaga Rahasia

Mudah sekali seorang pasien memberikan kepercayaan kepada seorang dokter sehingga mereka sangat terbuka kepada dokter. Tidak hanya riwayat penyakit yang diteritanya yang diceritakan, bahkan masalah rumah tangga pun menjadi luapan emosi dari pasien yang sangat berharap pemecahan solusi dari dokter. Maka sudah menjadi kewajiban bagi dokter untuk tetap memegang rahasia-rahasia medis maupun semua keluhan yang bersifat non-medis.

3.      Edukasi Sesuai Syariah

Seorang dokter muslim dituntut untuk mengetahui hukum-hukum seputar fiqih kedokteran. Jika pasien mengeluhkan sakitnya, dokter muslim harus mempu menjelaskan kepada pasien makna sakit dan balasan dari Allah bagi yang sabar menerimanya. Menjawab dengan jelas dan berdasarkan keilmuan ketika ditanya mengenai hukum euthanasia, aborsi, surat keterangan palsu dan lain sebagainya ketika pasien memaksa agar kita melakukannya. Oleh karena itu, dibutuhkan bekal pemahaman keislaman yang cukup untuk dapat merealisasikannya.

4.      Menghindari Resep Haram

Meskipun ada perbedaan mengenai boleh tidaknya memanfaatkan obat haram dan najis, maka sudah sepantasnya seorang dokter muslim berusaha sekuat tenaga untuk meresepi obat-obatan yang halal. Penggunaan obat-obatan halal bertujuan agar umat Islam dapat keluar dari perbedaan ulama, sebab kaidah fiqih menyebutkan,”Al-Khuruj minal khilaf mustahab.” Menghindarkan diri dari persoalan khilafiyah adalah sunnah. (Imam Nawawi, Syarah Muslim).

5.      Dakwah Profesi Tidak Meniadakan Dakwah Siyasi

Meskipun berprofesi menjadi dokter, peran dokter untuk terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin sangat dibutuhkan. Ketika Daulah Islamiyah tegak, maka yang akan menjadi pengambil kebijakan kesehatan di negara khilafah ialah seorang dokter yang memiliki pemahaman siyasah yang baik.

Berdakwah dari aqidah sampai khilafah bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh seorang dokter. Allah memberikan syariat ini kepada manusia yang sudah pasti syariat tersebut dapat direalisasikan oleh manusia. Jika dakwah tentang khilafah diabaikan, maka akan lepaslah ikatan-ikatan syariat yang lain. Rasulullah bersabda, “Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan, dan yang terakhir lepas adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Bersambung ke :
Tantangan dan Hambatan Menuju Dakwah Profesi (Insya Allah)

Referensi
1.      BKLDK Nasional. 2009. The View of Live. BILT. Dakwah Kampus.com
2.      Muhammad Mahdi Akif. 2009. Hakikat Ukhuwah. Al-ikhwan.net
3.      Taqiyuddin an-Nabhani. 2008. Syakhsiyyah Islamiyah. HTI Press. Jakarta.

Hanya ingin berbagi agar bisa lebih bermanfaat daripada disimpan di kantong sendiri. Tulisan ini hanya usulan BAB Dakwah Profesi yang diamanahkan oleh Dept. P dan K kepada saya. Belum resmi diterima atau tidak.

Categories: BAI - FULDFK
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: