Home > Coass Story > [Koass Story] Kematian Tidak Dapat Diprediksi

[Koass Story] Kematian Tidak Dapat Diprediksi

ekgSiapa yang paling sering dekat dengan malaikat Izrail? Koass.
Siapa yang sering meramal akan datangnya kematian pasien-pasien bangsal? Koass.
Siapa sebenernya malaikat pencabut nyawa? Koass. lho?!

Koass salah satu pahlawan ketika keluarga pasien teriak-teriak. Dia datang dengan badan yang dekil, jas putih yang dekil pula sambil mata sayu dan langkah yang cepat.

Koass termasuk komunitas yang banyak ditemukan di lorong-lorong rumah sakit. Dia sering sekali berada di samping malaikat Izrail ketika pasien yang sedang ditanganinya dalam keadaan sekarat.

Bayi yang baru lahir itu mengalami asfiksia berat. APGAR SCORE 3. Koass bersiap begadang. Begadang dengan merelakan tugas-tugas laporan kasus yang menumpuk, journal reading yang belum tuntas, CBD dan lain-lain. Merelakan juga jam mandinya (hehe…) hanya untuk kesembuhan sang pasien.

Sering sekali saya meramalkan keadaan pasien, namun sering pula meleset. Saya pernah mengabari kondisi pasien yang saya resusitasi bahwa kondisinya membaik dibandingkan awal kelahirannya, dan alangkah terpukulnya saya ketika 30 menit setelah saya mengatakan hal itu kepada pihak keluarga, bayi itu meninggal.

Kasus lain. Pukul 14.00 adalah jadwalnya aplusan. Belum 5 menit saya aplusan, saya dikabari oleh bu bidan kalo ada bayi lahir asfiksia berat APGAR SCORE 0. Langsung saja saya berlari ke VK dan seperti biasa, sang koass-lah pahlawan yang ikhlas tanpa digaji turut mensupport O2 bagi manusia yang baru lahir itu. “Ayo bangun dek, kakak lelah. Masa kakak harus bagging kamu sampai 12 jam?” Tergambar sudah dibenak kalo saya akan melakukan ini sampai besok pagi. Bisakah saya makan, bisakah saya tidur, bisakah saya menyelesaikan laporan-laporan saya? RSUD merupakan RS di mana peralatan serba terbatas, di sini pula koass ditempa untuk bisa memanfaatkan fasilitas minim itu untuk menolong pasien.

Apa yang terjadi, sungguh diluar dugaan. Bayi itu merah, dan.. batuk. Alhamdulillah. “Ayo dek lanjutkan bernapas!” Pintaku. Kemudian keadaan bayi itu berangsur-angsur membaik. Saya pun bisa bernapas lega. Sungguh, dari sekian bayi dan anak yang dibagging selama saya koass, hanya satu ini yang bisa hidup. Saya pun menyaksikan bayi itu dibawa pulang oleh keluarganya. “Semoga kamu bisa menjadi pejuang syariah dan khilafah kelak. Jangan sampai kau menjadi penghambat perjuangan saya ya dek!”

Kepada para koass, tetaplah semangat meski pasien sekarat!

Categories: Coass Story
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: