Home > Coass Story > [Koass Story] Hormatilah, Bagaimanapun Ia Manusia

[Koass Story] Hormatilah, Bagaimanapun Ia Manusia

loveDi bagian Obstetry Gynecology saya menemukan fenomena yang sungguh membuat hati ini miris. Bagaimana tidak?

Malam itu saat saya mendapat giliran jaga di kamar bersalin (VK) ada seorang ibu hamil kembar (gemelli). Namun ternyata kedua janin yang dalam kandungannya telah meninggal (intra uterine fetal death). Meskipun fetal death janin yang di dalam kandungan itu tetap harus dikeluarkan. Dengan segenap usaha meski pembukaan servix belum lengkap, namun karena sudah dilakukan pemberian oxytocin juga tidak ada perkembangan, maka pihan selanjutnya adalah ekstraksi.

Kedua janin itu pun akhirnya dapat dilahirkan berkat jasa dokter obsgyn. Setelah berkemas membersihkan tangan kami yang berlumuran darah, pihak keluarga dipanggil untuk menyaksikan kedua janin yang telah dikeluarkan itu. Janin yang satu cukup baik sedangkan yang satunya sedikit rapuh. Kondisi tubuh janin yang rapuh membuat saya dan mbak-mbak bidan takut untuk membersihkannya sebelum “membungkusnya”. Akhirnya janin itu hanya diselimuti kain dan “dibungkus” pelan-pelan tanpa membesihkannya seperti membersihkan bayi-bayi yang lahir dalam keadaan sehat.

Pihak keluarga langsung diizinkan oleh dokter obsgyn untuk pulang. Setelah beberapa saat kemudian pihak keluarga akhirnya berkemas untuk pulang meninggalkan RS. Namun ada pemandangan yang membuat saya kaget. Sang ayah dan (sepertinya) sang kakek dari janin itu membawa masuk kardus air menineral gelas yang kosong. Saya dan mbak-mbak bidan bengong dan saling menatap. Hanya keluar ucapan, “Hah?!”

Seorang bidan akhirnya maju dan berkata, “Pak, tolong digendong saja bayinya, jangan dimasukan kardus”. Kemudian apa jawaban dari sang oratu, “Iya, ini dimasukan kardus nanti baru saya gendong”. Saya membatin di dalam hati, “Teganya…” kemudian saya ikut angkat berbicara, “Tolong pak, digendong saja, bagaimanapun ia manusia”. Akhirnya dengan terpaksa dan wajah yang kurang bersahabat mereka pun menggendongnya dengan selendang.

Ya Allah,
saya ingat masa-masa SMA saat di mana terdapat 3 bangkai anjing di mushalla Rohis. Entahlah, mengapa ada bangkai anjing di dalam mushalla, konspirasi ataukah memang kebetulan anjing betina beranak di sana. Salah seorang ikhwan yang mampu menahan jijik memberanikan diri mengambil bangkai tersebut dan memasukkannya ke kardus air mineral. Sungguh keterlaluan ketika ada orang tua yang memperlakukan anaknya seperti saya dan teman-teman saya memperlakukan bangkai anjing.

Sahabat,
Bayi itu memang tidak sempat hidup,
Namun ia sudah pernah hidup dan bersaksi bahwa Allah tuhan mereka.
Maka, hormatilah mereka…

Categories: Coass Story
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: