Home > Coass Story > [Koass Story] Antara Konsep Sterilitas, Hijab dan Mahram

[Koass Story] Antara Konsep Sterilitas, Hijab dan Mahram

sterilDalam melakukan tindakan pembedahan, baik itu mayor maupun minor, seorang medis paramedis diwajibkan menerapkan konsep steril. Artinya seorang operator jika akan melakukan sebuah tindakan maka bagian anggota tubuhnya telah dipakaikan pakaian steril dan “haram” menyentuh dan atau disentuh oleh benda atau seseorang yang tidak steril.

Orang yang steril “haram” menyentuh yang bukan “mahramnya”. Seorang dokter, perawat dan coass akan cuci tangan terlebih dahulu kemudian memakai pakaian steril. Selama dalam keadaan steril maka “haram” bagi mereka menyentuh benda dan orang yang tidak steril. Seorang muslim yang akan shalat akan berwudhu dulu kemudian memakai pakaian yang menutup aurat dan sopan. Selama dalam keadaan berwudhu maka “haram” bagi mereka untuk menyentuh yang bukan mahramnya (meski berlaku bagi madzhab Syafi’iyah dan yang sependapat dengannya).

Ketaatan seorang medis paramedis di ruang operasi (OK) terhadap peraturan sterilitas sungguh mengagumkan. Sedikit saja kita menyentuh kain yang tidak steril, hmm…. Jangan ditanya deh bagaimana respon dokter-dokter yang di dalam ruangan. “Turun” sana! Dengan polos sang coass menjawab, “maaf dok” hihihi.. Ini bukan pengalamanku tapi temen senior. Sorry sobat, aku ga nyebut nama kok ^^V. Kata “turun” itu maksudnya “Anda sudah batal, maka berwudhulah kembali” hehe… Anda harus melepas semua pakaian steril dan pergilah dari ruang OK agar Anda selamat. Ingat, sarung tangan harganya 20.000 hati-hati ya sobat coass. Bisa-bisa di denda!

Bagaimana jika konsep steril diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Seorang muslimah jika akan keluar rumah harus memakai jilbab dan kerudung kemudian menjaga diri sebaik-baiknya agar jangan sampai bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Begitu pula dengan laki-laki. Mereka yang “tidak steril” hehe… (sorry sorry…  saya juga laki-laki kok) mereka yang laki-laki harus memahami bahwa mereka tidak steril dan harus berusaha jangan sampai menyentuh orang yang sedang menjaga diri untuk tidak disentuh. Luar biasa bukan? Tapi ingat, kehidupan demikian tidak dapat diterapkan di era demokrasi. Kenapa? Karena demokrasi menganut prinsip kebebasan. So, kehidupan ini hanya bisa ditemukan di Negara yang menerapkan syariah Islam, yaitu Khilafah Islamiyah.

Maaf, kalo sedikit ngawur dengan judul di atas. Cuma pengen nulis coz kehabisan ide. hehe..

Categories: Coass Story
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: