Home > Coass Story > [Koass Story] Ada Berbagai Macam Kondisi Menjelang Tibanya Kematian

[Koass Story] Ada Berbagai Macam Kondisi Menjelang Tibanya Kematian

heart_diseaseKematiaan tidak dapat diketahui kapan tibanya. Kematian dalam keadaan husnul khatimah sudah pasti menjadi harapan bagi kita semua. Kematian yang berjalan tenang, dimudahkan melafadzkan kalimat tahlil (Laa Ilaaha Illallah) disaat akhir hidupnya dan meninggalkan berbagai jasa yang dapat dibanggakan di hari akhir kelak. Siapa yang tidak menginginkan kematiannya demikian? Namun, pertanyaan penting buat kita, “Sudahkah kita mengantongi berbagai jasa dari peran kita kepada Islam yang dapat dibanggakan di hadapan Allah kelak?”

Koass, salah satu komunitas cukup besar di rumah sakit yang sering menyaksikan terjadinya kematian pasien-pasien di bangsal, di IGD, di ICU, ataupun di berbagai sudut rumah sakit harusnya mampu membuat dirinya lebih shalih dan lebih taat kepada Allah. Namun karena terbiasanya menyaksikan kematian, seolah-olah kabar kematian tidaklah membuat mereka ingat kepada hari akhir. Kematian sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Yang mereka rasakan hanya sedih, menyesal (meskipun sudah extra energic menolong), dan kasihan kepada pihak keluarga. Sebatas itu yang sering ada di benak kawan-kawan koass. Jarang sekali mereka melihat lebih jauh tentang peran penting dibalik perjalanan kematian. Apa yang akan dihadapi setelah fase kematian, dan seterusnya.

Di IGD ataupun di ICU, ada yang pada akhir kehidupannya saat sedang dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) + defibrilator (kejut jantung). Ada pula yang kematiannya dalam keadaan tenang.

Pada pasien yang pada akhir kehidupannya saat sendang dilakukan RJP, justru saya merasa kasihan. Karena meskipun berkali-kali dilakukan RJP, lama-kelamaan akhirnya juga meninggal. Memang itu sebuah ikhtiar, tapi itu justru yang membuat saya merasa tidak nyaman. Mengapa? Ya, karena ia sedang menghadapi sakaratul maut namun yang dilakukan (oleh tim medis) justru tidak memberi kesempatan untuk melafadzkan kalimat tahlil. Begitu pula pihak keluarga, mereka tidak memiliki kesempatan untuk mentalqin.

Perlu diketahui bahwa RJP dan defibrillator dilakukan oleh tim medis atas persetujuan pihak keluarga pasien, dan tim medis hanya menjalankan prosedur. Jadi dilakukan atau tidaknya RJP atas persetujuan pihak keluarga pasien.

Mungkin ada kasus yang setelah dilakukan RJP pasien dapat selamat dan kembali sehat, tetapi saya belum pernah menyaksikannya.

Pada kasus lain, ada pasien yang dalam keadaan kritis namun pihak keluarganya menolak untuk dilakukan defibrilator. Mereka justru duduk berjam-jam mengelilingi bed sang pasien untuk mendoakan untuknya, membaca surat Yaa Siin, dan sesekali diselingi bacaan tahlil diperdengarkan disisi pasien. Meski saya melihat pasien seperti tercekik karena mungkin pasokan O2 di dalam tubuh yang mulai menipis, atau mungkin sangat sakitnya proses sakaratul maut, namun pemandangan itu membuat saya merasa lebih nyaman. Nyaman karena pihak keluarga sangat mengapresiasi dan memberi kesempatan sang pasien untuk mengakhiri hidupnya dengan kalimat tahlil.

“Talqinlah orang yang akan meninggal diantara kalian kalimat Laa Ilaaha Illallah (barangsiapa yang akhir ucapanyya Laa Ilaaha Illallah ketika akan meninggal, maka ia akan masuk jannah suatu hari diantara masa yang berjalan, meskipun ia mendapatkan apa yang ia dapatkan sebelumnya) (HR. Muslim)

Sahabat, itulah dua kasus yang berbeda menjelang tibanya kematian seseorang. Kasus pertama menurut saya meninggal dalam keadaan tidak tenang. Sedangkan kasus kedua meninggal dalam keadaan tenang dan terhormat. Teori saat kuliah yang dibawakan oleh dr. Ismet Yusuf, Sp.KJ mengenai Dying with Dignity (Meninggal secara terhormat) sungguh benar apa adanya. Memang perlu adanya pembedaan antara death dan deathing. Kalau death berarti peristiwa yang ditandai dengan waktu. Sedangkan deathing yaitu persiapan secara sadar dalam mempersiapkan kematian.

Keadaan penting bagi pasien yang sedang mengalami proses kematian yaitu ia dikelilingi suasana cinta, kasih sayang keluarga dan dapat meninggal dengan tenang penuh dignity.

Kemajuan ilmu kedokteran sampai saat ini tetap tidak dapat mencegah kematian. Dulu dokter selalu diharapkan menyembuhkan dan kematian dianggap kegagalan maka kini sudah berbeda.

Tulisan ini tidak bermaksud menolak prosedur kedokteran mengenai CARDIOPULMONARY RESUSCITATION. Namun ini hanya sudut pandang penulis berdasarkan perasaan dan rasa hormat penulis terhadap kesejahteraan pasien menjelang kematian.

Bagi yang ingin mengetahui derajat hadits mengenai membacakan surat Yaa Siin, silahkan baca uraian ini :

Hadits yang dimaksud yaitu : Dari Ma’qil bin Yasar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bacalah surat Yasin kepada orang yang (menjelang) wafat di antara kalian.” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Imam ath Thabrani, dan Imam Baihaqi)

Hadis ini dishahihkan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, Ditegaskan pula oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram, Kitabul Janaiz. Penshahihan yang dilakukan oleh Imam Ibnu Hibban, lalu dikuatkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar, Imam Ash Shan’ani, Imam Asy Syaukani, dan para imam lainnya menjadikan hadits ini maqbul (bisa diterima).

Imam an Nawawi rahimahullah mengatakan: “Disunahkan membacakan surat Yasin di sisi orang yang sedang menghadapi kematian. Demikian ini juga dikatakan oleh para sahabat kami (asy-syafi’iyah), dan disukai  pula oleh sebagian tabi’in membaca surat Ar Ra’du.” (al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: “Dan, seakan membacanya di sisi mayit akan menurunkan rahmat dan berkah, dan memudahkan keluarnya ruh. Wallahu A’lam” (Tafsir al-Quran al‘Azhim, 6/562)

Categories: Coass Story
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: