Home > Coass Story > Trias Koass dan Ketaatan Kepada asy-Syari’

Trias Koass dan Ketaatan Kepada asy-Syari’

embun[Edisi Revisi 25/8/11]

Koass memang penuh inspirasi.
Koass penuh dengan pengalaman unik.
Koass juga penuh dengan penderitaan hehe…

Ngomong-ngomong tentang trias, para koass sudah sangat mengenal apa itu trias malaria, trias sindrom meniere dan trias-trias lainnya. Dalam politik sering juga ditemukan trias politika meski trias politika versi demokrasi ga saya setujui.

Berangkat dari kebiasaan koass yang selalu bikin ulah, kurang pengalaman, dan sangat membutuhkan bimbingan dari senior dan dokter pengampu, maka koass pun punya trias tersendiri. Trias koass meliputi “maaf dok”, “iya dok”, dan “terima kasih dok”. hehe… Yaaa begitulah rutinitas koass. Kata-kata itu hampir setiap hari dan setiap saat diucapkan. Koass meskipun bergelar sarjana namun bisa dikatakan sebagai komunitas terbawah di dalam “rantai makanan” RS. Kenapa? Ya karena posisinya sebagai super junior.

Sudah umum dikalangan kita bahwa yang namanya junior pasti paling ga enak. “Dek, tolong pasien itu dilakukan bla, bla, bla” 10 menit kemudian, perawat say, “ada konsulan”. 15 menit kemudian, “pasien baru”. Baru duduk bersandar di kursi, “kriiing, kriing.. ada telepon. Di lantai 3 ada yang mengeluh bla, bla, bla” dan rutinitas-rutinitas pembelajaran lainnya. Tahukah bahwa koass adalah orang terkuat di RS? hehehe… tengok saja keberadaan mereka yang kusut dan dekil. Maklum saja, mereka bisa saja kerja 55 jam (meskipun ada yang hanya 31 jam). 55 jam! Bisa dibayangkan kan bagaimana lelahnya? 55 jam setara dengan 7 shift perawat, 7 shift bidan, 7 shift adek-adek akper, 7 shift kawan-kawan profesi nurse, 7 shift cleaning service, dan sebagainya. Berangkat sama-sama jam 7.00 hari senin, tapi koass bisa saja pulang hari rabu pukul 14.00. Itu artinya ketemu dengan perawat yang sudah bermalam di rumah 2 malam. Atau yang 31 jam, itu setara dengan 4 shift perawat. Hebat kan? Itulah koass. Rutinitas kesehariannya ialah anamnesis, memeriksa, konsul dan tetek bengek medis lainnya. Kalo mereka melakukan kesalahan maka ucapan “maaf dok” senantiasa keluar dari lisannya. Jika dokter visite dan memberikan penjelasan panjang lebar dan memberikan bimbingan apa yang seharusnya koass lakukan dalam hal pemeriksaan, terapi, usulan pemeriksaan penunjang dan lain sebagainya, maka ucapan “terima kasih dok” spontan keluar dari lisan kami. Itulah sekelumit kisah tentang pahlawan RS. hehe… Apa coba kalo bukan disebut sebagai pahlawan? Mereka ikhlas tanpa bayaran! Tapi mereka tetap siap siaga bekerja.

Bagaimana dengan dakwah? Pernahkah terlintas untuk bekerja demi umat selama 55 jam non-stop demi mengamati perkembangan dan memecahkan problematika umat setiap saat? Panggilan-panggilan telepon yang mengeluhkan akan naiknya harga pangan, naiknya harga BBM, naiknya tarif-tarif ga jelas di negeri ini sebagaimana panggilan keluhan-keluhan mendadak yang diterima di rumah sakit?

Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya untuk selalu meminta ampunan kepada Allah tatkala Allah menegurnya. Apakah itu berupa teguran halus ataupun teguran yang keras, maka sudah sepantasnya seorang muslim untuk bermuhasabah, meminta ampunan kepada-Nya dan berusaha untuk memperbaiki agar tidak mendapat teguran berulang. Untuk para koass, renungkanlah… Jangan cuma sama dokter kita sering minta maaf, tapi sama Allah juga harus sering-sering istighfar. ^^

Ketika para dokter memberikan resep maka tidak sedikit pasien yang langsung sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat). Bahkan seringkali kami temukan mereka minta penjelasan tambahan, “ada pantangan dok?”, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Tidak pernah saya menemukan mereka bertanya, “Mengapa harus diminum sebelum makan dok?”, “Mengapa saya tidak boleh makan pedas?“ dan pertanyaan keraguan lainnya. Begitu juga dengan koass. Ketika koass diperintah, maka para koass dengan spontan mengatakan, “iya dok” dengan ikhlas melalui lisannya tanpa pernah bertanya-tanya. Bagaimana dengan perintah Allah kepada kita? Apakah kita selalu mengatakan, “kami dengar dan kami taat” saat Allah memberikan batasan-batasan syariah kepada kita? Apakah kita sering mempertanyakan syariah Islam? Mari para koass khususnya dan semua pembaca pada umumnya agar mengupgrade diri kita supaya ketaatan kita kepada kepada Allah lebih baik lagi. Oke?!

Trias koass yang ketiga yaitu ucapan, “terima kasih dok”. Ungkapan tulus dari koass kepada pembimbingnya. Bagaimana kepada Allah? Sudahkah kita selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada kita? Ungkapan syukur tidak hanya ucapan “alhamdulillaah” namun juga disertai dengan upaya kita untuk menjaga nikmat yang diberikan kepada kita dengan cara tidak menggunakannya untuk bermaksiat. Jagalah nikmat kesehatan, nikmat iman, dan seluruh nikmat-nikmat lainnya dengan cara tetap taat kepada syariah dan bersama-sama menggunakan nikmat tersebut untuk memperjuangankan syariah secara kaffah melalui institusi yang diridhai-Nya, Daulah Khilafah Rasyidah.

Categories: Coass Story
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: