Home > Notes > Religius – Kapitalis ?

Religius – Kapitalis ?

Tanggapan Untuk Tulisan : RELIGIUS-KAPITALIS DALAM GERAKAN ISLAM

Mencoba mengkritisi tulisan yang berjudul Religius-Kapitalis Dalam Gerakan Islam yang didalamnya penuh sanjungan kepada sosok yang tidak selayaknya mendapatkan sanjungan. Tulisan ini pun bermaksud untuk meluruskan frame berfikir untuk para kader dakwah dalam menjalankan gerakan dakwahnya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya tanpa perlu terjun mengikuti arena demokrasi atau bahkan mencoba “mengawinkan” ideologi Islam dan ideologi kufur.

GEMA Pembebasan sama sekali belum melihat adanya keberhasilan nyata dari AKP di Turki. Pernyataan semacam ini bukan keluar asal-asalan tanpa melalui analisis. AKP di Turki bukan sebuah keberhasilan jika menggunakan frame berfikir dengan parameter Islam. Apakah di Turki syariat Islam diterapkan? Jika jawabannya, “Tidak”. Apakah masih pantas kita menyebut AKP sukses “mengawinkan” Islam dan Sekuler? Sudah bukan rahasia lagi bagi kita para muslimah di Turki dilarang mengenakan jilbab dan kerudung di kampus-kampus. Apakah Erdogan mencabut larangan ini? Kita juga dapat melihat dalam kepemimpinan Erdogan, pangkalan-pangkalan Amerika di Turki sebagai anggota NATO tetap beroperasi. Lalu dimana letak keberhasilannya? Keberhasilan dapat dilihat jika kekuasaan itu berada di tangan kaum muslimin dan Islam bisa ditegakkan.

Kapitalisme tegak di atas dasar pemisahan agama dengan kehidupan (sekularisme). Dasar sekulerisme inilah yang menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir) bagi para pengembannya. Paham sekulerisme akan mempengaruhi qaidah fikriyah (kaedah berfikir) bagi tingkah laku dalam setiap aktivitas yang dijalaninya. Akhirnya mereka pun berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya, sehingga terlahir sebuah peraturan yang serba bebas. Termasuk didalamnya yaitu kebebasan beragama, berpendapat, hak milik, dan kebebasan pribadi. Kebebasan hak milik inilah yang membidani lahirnya sistem ekonomi kapitalis, dan hal ini merupakan aspek yang paling menonjol dari ideologi ini. Olehkarena inilah ideologi yang tegak di atas dasar sekulerisme dinamakan ideologi kapitalis.

Sangat berbahaya jika gerakan Islam mulai mencoba cara-cara yang tidak sesuai fitah. Suatu kedangkalan berfikir jika seorang muslim ridha dan menginginkan sistem peraturan yang tidak sepenuhnya diambil dari Islam dan mecoba menggabungkan dua atau lebih ideologi untuk membangun sebuah sistem. Kapitalisme tidak dapat diambil secara terpisah dari ide dasarnya yaitu sekulerisme. Juga tidak pula dapat diambil secara bersamaan dari ide dasarnya karena akan mengancam aqidah.

Kapitalisme bukan saja membuat alergi para aktivis dakwah, apalagi dikatakan seolah-olah alergi. Justru kapitalisme merupakan racun dengan intensitas toxic yang mematikan. Indah dipandang bagi yang menggunakan frame berfikir dangkal, tetapi sesungguhnya jika saja mereka yang menginginkan kapitalisme mau sedikit berpikir mendalam dan sampai pada derajat berfikir cemerlang, akan didapati bahwa sesungguhnya sekulerisme mampu melepas ikatan-ikatan aqidah dari diri seorang muslim. Sebutan apalagi yang lebih selain racun yang mematikan?

Ketika fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang lepas dari perdagangan bebas, bukan berarti aktifis dakwah harus ikut hanyut dalam lingkaran kapitalis yang berbasis ribawi. Sebuah kesalahan besar jika kader dakwah dituntut untuk professional dan berusaha untuk ikut andil dalam pengelolaan negara yang berbasis pada riba. Maka satu-satunya cara bukan dengan melibatkan diri dalam proyek kapitalis, tetapi membangun kesadaran umat akan pentingnya sistem ekonomi syariah dan menuntut para pakar ekonomi baik dari kalangan kader dakwah maupun dari pakar ekonomi muslim sendiri untuk bersikap professional dalam pengelolaan negara yang berbasis syariah yang nantinya diterapkan dalam institusi Khilafah. Ketika gerakan dakwah menggunakan qiyadah fikriyah Islam dalam setiap aktifitasnya, niscaya akan didapati dengan jelas mana aktifitas halal dan haram. Dengan parameter inilah seharusnya kader bergerak, bukan malah latah ikut berpartisipasi pada pengelolaan negara yang berbasis riba!

Benar sekali masyarakat umumnya menginginkan bukti, tetapi bukan bukti dari kader yang tidak melandasi aktifitas pergerakannya dengan kepemimpinan berfikir Islam. Ayat suci menjadi panduan yang tidak bisa terpisahkan dari ruh gerakan dakwah. Maka menyerukan dakwah dengan bukti, namun tidak dilandasi frame berfikir syar’i, maka dakwah tidak akan pernah membumi, dan kegagalan menjadi sebuah keniscayaan. Maka Gema Pembebasan menyerukan kepada seluruh elemen pergerakan dakwah kampus agar dalam melakukan aktifitas dakwahnya dilandasi dengan fikrah dan thariqah yang shahih untuk mewujudkan visi gerakan dakwah yang telah di tentukan, yaitu mengembalikan kehidupan Islam di dalam institusi Khilafah Islamiyah.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. al-A’raf: 96)

Maka dengan ini GEMA Pembebasan mengatakan, mencoba “mengawinkan” ideologi Islam dan ideologi kufur merupakan perbuatan batil. Cukuplah dengan Islam, maka karunia Allah dari langit dan bumi akan dibukakan. Wallaahu a’lam.

Categories: Notes
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: