Home > Notes > Menabung Uang di Bank Tanpa Riba. Bisa !

Menabung Uang di Bank Tanpa Riba. Bisa !

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, dan Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda, “Riba itu ada tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan seperti seseorang menzinai ibunya. Dan yang paling berat (seperti) merusak kehormatan seorang muslim” Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas dan Hakim meriwayatkannya secara lengkap dan menshahihkan.

Sebelum mendapat informasi mengenai kemudahan yang diberikan bank untuk terhindar dari bunga, kita cenderung untuk beralasan akan kebolehan menabung di bank konvensional asalkan tidak mengambil bunganya. Kebolehan tersebut didasari karena kondisi darurat. Kalau kita mau bersungguh-sungguh untuk terlepas dari bunga bank di beberapa bank konvensional ataupun di bank syariah sebenarnya ada jalan untuk itu.

Saat kita membuka rekening di bank, kita menyepakati dan menandatangani semua peraturan yang dibuat oleh bank termasuk mendapatkan bunga bank. Sehingga hukum menyimpan uang di rekening bank ribawi yang padanya terdapat akad riba adalah haram. Maka kita sedapat mungkin untuk melakukan permohonan secara tertulis kepada pihak bank untuk menghapus bunga atau dengan kata lain tidak memasukkan bunga ke rekening tabungan kita. Jika kita telah memperbarui akad kita dengan bank, maka menabung atau menyimpan uang di bank konvensional masuk ke dalam perkara syubhat. Setidaknya tidak haram, meskipun sebenarnya perkara syubhat sebaiknya dihindari.

Memang tidak mudah ketika kita memulai melangkah kepada tahap ini. Ada saja godaan syaitan yang dihembuskan kepada kita. Perlu kesungguhan dan ketetapan hati yang kuat untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, silahkan baca ayat beriku ini :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (QS. al-Baqarah : 275)

Ayat inilah yang membuat kita harus bersungguh-sungguh meninggalkan riba. Bergeraklah, siapkan agenda kapan Anda harus ke bank untuk memperbarui akad Anda!

Bank Mandiri salah satu bank yang mampu menyanggupi hal ini. Akan tetapi bukan berarti kita akan langsung diterima begitu saja saat Anda datang menemui customer service. Anda harus bersungguh-sungguh mengutarakan keinginan Anda untuk menghapus bunga bank dari tabungan Anda. Anda akan mendapat beberapa pernyataan ataupun pertanyaan dari customer service (CS) seperti, “Bunga sudah terinclude di dalam system sehingga tidak bisa”, “Memang alasannya apa ingin menghapus bunga?” Dan pertanyaan maupun pernyataan lain yang terus mendesak kita agar kita tidak menghapus bunga bank ke rekening kita. Utarakan niat Anda dengan baik, berikan kepercayaan kepada bank seperti, “Apakah tidak ada kebijakan dari bank kepada nasabahnya?” Dan tunggu saatnya CS akan berkata, “baik, saya bicarakan dulu dengan atasan” atau Anda yang memulainya, “Bisa saya bertemu dengan pimpinan bank ini?” Insya Allah bunga bank tidak akan mampir lagi ke bank Anda. Ini hanya pengalaman saya, bisa saja pengalaman Anda nanti berbeda.

Berbeda jika di BNI Syariah. BNI Syariah tidak bisa menghapuskan bagi hasil pada tabungan hasanah, namun ada rekening tabungan khusus dengan aqad wadiah (titipan). Tabungan BNI Syariah dengan aqad wadiah tidak diberi nisbah (bagi hasil), dan tidak pula dipotong pajak dan biaya administrasi lainnya.  Untuk berbagai kebutuhan silahkan membuka rekening di bank yang dapat menghapus item riba atau nisbah (istilah yang biasa digunakan bank syariah untuk menyebut bagi hasil). So, mari kita tutup rame-rame tabungan hasanah kita dan pindah ke tabungan dengan aqad wadiah. Negeri ini tidak akan pernah sejahtera jika penduduknya melakukan berbagai macam kemaksiatan, termasuk riba.

Rasulullah bersabda, “Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka”. (HR. Ath-Thabrani dan al-Hakim)

(inspirated by MEF)

Setelah saya kembali mencetak buku tabungan setelah lama tak mencetak dan bertransaksi dengan mandiri, ternyata terhitung sejak 2013 rekening saya kembali ada bunga bank. Saatnya kuras tabungan dari mandiri🙂 update 1/10/2013

Categories: Notes
  1. kholis
    May 1, 2012 at 10:17 am

    Assalamu’alaikum

    Kalau Bank Mandiri Syariah bisa nggak kita minta meniadakan bunga/bagi hasil di rekening kita?

    Terima kasih
    Jazakallahu khoir

    Note: Bank Muamalat tidak bersedia meniadakan bagi hasil di rekening nasabahnya (1 Mei 2012)

    • May 3, 2012 at 3:11 pm

      Wa’alaykumussalam

      Belum tau. Yang saya ceritakan di atas adalah pengalaman pribadi. Kalau tidak ada kepentingan di BSM, buka saja di BNI Syariah dengan akad wadiah.

    • aw271
      April 5, 2013 at 8:22 pm

      coba lihat link berikut ulasan tentang riba & bank Syeikh Imran Hosein:

  2. yunita nurhidayah
    June 15, 2012 at 7:31 pm

    Kalo yg tabungan rupiah bsm (akad mudharabah) ada bagi hasilnya. kalo yg tabungan simpatik (akad wadiah) tdk ada bagi hasil tp kena potongan admin 2 ribu per bulan plus biaya atm 2 ribu per bulan. itu pengalaman ane sebagai nasabah BSM.

  3. tia
    July 21, 2012 at 2:33 pm

    memangny bagi hasil itu trmasuk riba jg ya?mhn pnjelasanny ya..trims.

    kebetulan kmrn sy bru mmbuka tabungan bni syariah yg akad wadiah *awalny mikir lmyn jg si dpt bagi hasil* tp kr tkut bagi hsil lbh dkit drpd biaya administrasi akhrny sy plih yg wadiah

    • July 22, 2012 at 9:29 pm

      @yunita nurhidayah: Terima kasih atas informasinya.

      @tia: bagi hasil dalam perbankan Islam halal jika pondasi perekonomiannya menggunakan sistem ekonomi Islam. Namun faktanya pada saat ini bank-bank syariah berdiri di atas pondasi sistem ekonomi kapitalis, sehingga sistem bagi hasilnya diragukan kehalalannya. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa baca di http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=792&Itemid=49

  4. Syadzuli
    November 6, 2012 at 1:50 pm

    Pengalaman pribadi di SharE (Muamalat)… Nisbah tidak bisa dihapuskan cuma bisa dialihkan ke rekening-rekening amal… untuk kasus seperti ini bagaimana hukumnya??

    • November 7, 2012 at 7:05 am

      Uang bagi hasil bukanlah uang kita. Status uang bagi hasil pun diragukan kehalalannya. Ketika kita menabung di bank konvensional, maka bunga tabungan itu sebenarnya bukan milik kita. Maka kita pun tidak punya kendali untuk memanfaatkan uang tersebut. Membuang uang dari bunga bank haram karena itu memang bukan uang kita, menyedekahkan kepada kaum dhuafa pun haram karena memang bunga bank bukan uang kita. Begitu juga memanfaatkan uang tersebut untuk sarana umum seperti membuat jalan, wc, dan lain sebagainya tetap tidak diperbolehkan karena memang itu bukan uang kita.

      Bagaimana solusinya? Ketika saya diskusi (karena memang saya bukan ustadz, maka konsultasikan) dengan ustadz saya, solusinya yaitu dikembalikan ke baitul maal. Namun karena sekarang baitul maal belum ada (baitul maal syar’i yaitu ketika berada di bawah administrasi pemerintahan negara Islam / Khilafah) maka uang-uang riba tersebut hanya bisa disimpan dan tidak boleh digunakan sampai Khilafah kembali berdiri.

      Terkait bagi hasil, karena menurut penjelasan di http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=792&Itemid=49 statusnya diragukan kehalalannya, maka mengalihkan bagi hasil ke rekening-rekening sosial pun tidak diperbolehkan karena memang uang tersebut bukan milik kita. Wallaahua’lam.

  5. November 7, 2012 at 7:07 am

    Kritik Terhadap Bank Syariah

    Khilafah1924.org – Biasanya bank syariah dibangga-banggakan sebagai wujud ekonomi Islami yang bebas riba dan menjadi alternatif dari bank konvensional yang ribawi. Berbagai manfaat dan kinerjanya juga sering ditonjolkan. Tentu, manfaat dan kinerja yang baik dari bank syariah tak perlu kita ingkari dan bahkan harus diapresiasi.

    Namun tak boleh dilupakan, standar untuk menilai bank syariah sebenarnya bukan pada aspek manfaat atau kinerjanya, melainkan sejauh mana bank syariah berpegang teguh dengan syariah Islam. (Asy-Syarawi, Al-Masharif Al-Islamiyah, hal.516).

    Berdasarkan standar syariah Islam ini, Ayid Fadhl Asy-Syarawi dalam kitabnya Al-Masharif Al-Islamiyah (2007) telah memberikan kritik umum dan rinci terhadap bank-bank syariah yang ada sekarang.

    Kritik secara umum, menyoroti lingkungan di mana bank syariah tumbuh dan berkembang. Tak dapat diingkari, bank syariah tumbuh dan berkembang dalam habitat yang abnormal. Yaitu dalam sistem ekonomi kapitalistik-sekular yang anti syariah, yang ditanamkan oleh kafir penjajah di Dunia Islam. Kafir penjajah awalnya menanam bank konvensional saat mereka menjajah. Ketika kemerdekaan diproklamirkan, sayangnya bank konvensional ini hanya dinasionalisasikan, tapi tidak diislamisasikan secara total.

    Artinya, sistem ekonomi yang ada tetap kapitalistik seperti yang dibuat oleh kafir penjajah. Dalam perkembangan berikutnya, barulah muncul ide untuk menghindarkan diri dari riba bank konvensional, dengan mendirikan bank syariah. (Syarawi, 2007:540-552).

    Karena tumbuh dalam lingkungan kapitalis seperti itulah, banyak terjadi kontradiksi (tanaqudh) antara bank syariah dengan sistem kapitalis yang menjadi tempat hidupnya. Contohnya, dalam bank syariah berlaku prinsip bagi hasil dan bagi rugi (profit and loss sharing) dalam akad mudharabah, sesuai kaidah fikih Al-ghurmu bi al-ghunmi (resiko kerugian diimbangi hak mendapatkan keuntungan). Sementara dalam sistem kapitalis, khususnya dalam dunia perbankan, tidak dikenal istilah bagi rugi. Dalam UU Perbankan Amerika Serikat, misalnya, ada ketentuan walaupun bank mengalami kerugian, bank harus mengembalikan simpanan nasabah secara utuh tanpa boleh dikurangi. (Syarawi, 2007:538).

    Tak hanya dalam mudharabah, kontradiksi seperti itu juga terwujud dalam banyak hal, misalnya sistem akuntansi, aturan perpajakan, aturan badan hukum, serta aturan perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri.

    Berbagai kontradiksi ini, cepat atau lambat akan menimbulkan penyimpangan demi penyimpangan yang akan makin bertumpuk-tumpuk. Kondisi ini akan membuat umat Islam hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Karena pilihannya hanya dua : bank konvensional yang menjalankan riba, atau bank syariah yang penuh dengan penyimpangan.

    Adapun kritik secara rinci untuk bank syariah, antara lain sebagai berikut :

    Pertama,terlibat dalam muamalah ribawi. Tak sedikit bank-bank syariah di Timur Tengah yang menginvestasikan dananya di bank konvensional yang memberikan bunga di negara-negara Barat.

    Kedua,terlibat dalam asuransi (ta`min). Padahal asuransi hukumnya haram.

    Ketiga,tidak pernah mengumumkan adanya kerugian. Ini suatu keanehan yang mengindikasikan penyimpangan. Karena meski dalam akad mudharabah diteorikan bank syariah bisa rugi, tapi dalam praktiknya tak pernah satu kali pun ada bank syariah mengumumkan dirinya rugi.

    Keempat,lemahnya pengawasan manajemen dan syariah. Ini mengakibatkan banyak akad-akad bank syariah tidak sesuai dengan ketentuan syariah yang digariskan.

    Kelima,dominannya aktivitas pedagangan melalui akad murabahah. Ini akan berimplikasi buruk, yaitu dominasi bank syariah yang akan mengendalikan penentuan harga dan laba untuk berbagai komoditi. Pada saat yang sama, ini juga menunjukkan lemahnya perhatian bank syariah pada sektor pertanian dan industri.

    Keenam, kurangnya SDM yang cakap untuk mengelola keuangan syariah. Akibatnya, bank syariah mengambil pegawainya dari bank konvensional yang masih mempunyai pola pikir dan budaya kerja bank konvensional. (Syarawi, 2007:510-514).

    Dengan adanya kritik-kritik terhadap bank syariah di atas, dapat disimpulkan bank syariah penuh dengan hal-hal yang meragukan (syubhat), karena terjadi berbagai penyimpangan syariah (mukhalafat syariyah) dalam banyak aspeknya. (Syarawi, 2007:554).

  6. ade
    December 17, 2012 at 4:50 pm

    kalo di bank jabar bgm? bisa tidak kita berakad wadiah saja?

    • December 26, 2012 at 10:47 am

      @ ade, saya kurang tau. Tulisan saya di atas hanya sekeder sharing pengalaman saya di BNI saja. Untuk bank yang lain kurang tau. Saya tinggal di jateng, bank jabar di jateng ga ada🙂

  7. December 18, 2012 at 10:52 pm

    Insya Allah saya akan mencoba di Bank BNI Syariah tapi untuk BNI biasa ada potongan pajaknya atau tidak yah?🙂

    • December 26, 2012 at 10:51 am

      @ Catatan Harian Irfan, saya ga ngiklan bank BNI lho🙂 Hanya menginformasikan klo ada akad wadiah di BNI syariah yang tidak ada potongan apapun. Klo berminat untuk sama-sama menghindari riba, ayo buka di sana saja🙂

  8. anti.riba
    February 7, 2013 at 5:04 pm

    Sama aja. Muamalat juga kulakan duit dari BI, dan seperti kita ketahui kita tidak lepas dari BI, jadilah enterpreneur, hindari deposito, hindari riba, pergunakan bank hanya sebagai alat mempermudah transaksi, tanpa pinjaman dan deposito, apalagi bank yang kini dikuasai asing. hati2! Sekarang gali potensi diri, simpan emas sebagai tabungan, dan berinvestasi disektor riil untuk melepaskan diri dari sistem dan tataniaga dajal! Dengan cara begitu alhamdulilah saya lepas dari jerat bank!

  9. Aisyah
    September 25, 2013 at 4:30 pm

    barusan nelpon ke CS mandiri,, katanya ga bisa dihapus bunga banknya,, hiks hiks,,bagaimana kata-kata ajaibnya biar CS nya bolehin?

    • September 25, 2013 at 9:14 pm

      Memang sulit meskipun kita berhadap-hadapan dengan CS. Sudah saya ceritakan di atas bahwa tidak mudah untuk menghapus bunga bank sampai saya minta bertemu dengan pimpinan bank. Klo tetap tidak bisa ya kosongin saja rekeningnya, beralih ke bank syariah dengan akad wadiah. Insya Allah lebih aman dan terhindar dari perkara riba. Wallahu a’lam.

  10. September 28, 2013 at 8:32 am

    klo boleh tau brp nmr rekening Mandiri anda?
    pernah mncoba trus jawabannya tdk bisa dan petugas meminta contoh rekening yang sudah dihapus bunga bank nya..

  11. firdaus
    September 29, 2013 at 2:31 pm

    Saya pernah punya rekening Shar-e Bank Muamalat Indonesia. Alhamdulillah bunga bisa dihapus.. tinggal mengisi dan tanda tangan surat pernyataan bermaterai.

  12. firdaus
    September 29, 2013 at 2:32 pm

    @ariefudin. Antum pernah berhasil menghapus bunga di bank mandiri?

  13. October 1, 2013 at 10:50 am

    PERHATIAN

    Setelah saya kembali mencetak buku tabungan setelah lama tak mencetak dan bertransaksi dengan mandiri, ternyata terhitung sejak 2013 rekening saya kembali ada bunga bank. Saatnya kuras tabungan dari mandiri🙂 update 1/10/2013

  14. riyan
    October 17, 2013 at 10:41 am

    Kl bank muamalat dah gak bisa juga dihapus bagi hasil sejak mei 2012. Buka di BRIS lbh mudah juga gak ada BRIS coba buka dan transaksi di BRI ribawi biasasnya di cabang bisa buka dan transaksi pada teller khusus

    • October 18, 2013 at 10:51 pm

      Terima kasih infonya🙂

  15. April 2, 2014 at 10:59 pm

    TAMBAHAN

    Adapun berkaitan dengan riba bank atas hartanya dan bagaimana melepaskan diri darinya, maka jawabannya sebagai berikut:

    1. Jika dia berkata kepada bank, saya ingin harta pokok saya saja, dan aturan bank memperbolehkannya mengambil harta pokoknya saja maka cukup seperti itu, dan ia mengambil harta pokoknya saja…

    2. Adapun jika aturan bank tidak memperbolehkannya… tetapi aturan tersebut mewajibkannya mengambil riba beserta harta pokoknya sekaligus dan jika tidak maka bank tidak akan memberikan harta pokoknya, dalam kondisi ini ia mengambil harta pokoknya dan riba tersebut dan dia melepaskan diri dari riba, dan dia letakkan di tempat-tempat kebaikan secara diam-diam (rahasia) tanpa menampakkan bahwa ia bersedekah dengannya, sebab itu adalah harta haram, akan tetapi yang dituntut adalah ia melepaskan diri dari harta haram itu… Misalnya, bisa saja ia mengirimkannya ke masjid tanpa seorang pun tahu atau mengirimkannya kepada keluarga fakir tanpa mereka tahu siapa pengirimnya, dan dengan cara yang di dalamnya tidak tampak bahwa ia bersedekah… atau semacam itu.

    3. Adapun pahala atas infaknya itu, maka tidak ada pahala atas infak harta haram. Pembelanjaannya di jalan kebaikan itu bukanlah shadaqah sebab bukan merupakan harta halal yang ia miliki… Akan tetapi, in syâ’a Allâh, ia mendapat pahala karena meninggalkan keharaman, yakni menghapus muamalah ribawinya dengan bank dan melepaskan diri dari harta haram. Allah SWT menerima taubat dari hamba-Nya dan tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang memperbagus amal (melakukan amal dengan ihsan).

    Saudaramu
    Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

    28 Jumadul Awal 1435 H
    29 Maret 2014 M
    (http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/02/jawaban-pertanyaan-mengenai-harta-riba/)

  16. muhammad yanuar
    September 28, 2014 at 7:53 pm

    Pengalaman saya pernah niat mau bukanya di BNI Syariah, eh salah jalan dan nyasar, ketemunya malah BRI Syariah, lalu nyoba deh…

    Alhamdulillah berhasil di BRI Syariah, gak pake materai2-an…
    tanpa biaya administrasi dan bahkan gratis tarik tunai di semua ATM BRI, ATM Bersama dan ATM berlogo PRIMA…

    Saya BEBAS RIBA ……🙂🙂🙂

  17. NASIB
    November 6, 2014 at 11:21 pm

    saya mw nanya bagai mana dengan pekerjaan saya yg hanya membagi bagikan kartu kredit BNI gratis kepada masyarakat apakah tetap RIBA

  18. fajar shidiq
    November 9, 2014 at 1:16 am

    Asslmkm. .
    Maaf mas sebelumnya, mengapa anda masih mau menabung di bank?
    Bukankah lingkungan bank syariah masih pakai sistem kapitalis? shg pengelolaannya pun mungkin masih sama seperti di bank konvensional & sumber dananya pun ada unsur ribanya.
    Untuk mutawari’nya, mungkin jika tidak setengah2 dlm menghindari riba, kita tidak perlu menabung sekalian hingga ada khilafah islam seperti yg tersebut di artikel.

    Saat ini kebetulan saya memiliki rekening tabungan ib hasanah yg akad WADIAH, bukan mudharabah.😀

    Maaf, tidak bermaksud menyudutkan pihak bank atau menyinggung pihak mana pun.
    Agar saya segera tahu jawabannya, tlg balas jg di email saya ya. .

    Terima kasih.🙂
    Wasslmkm. .

  19. ta
    November 11, 2014 at 1:31 pm

    Trs solusinya gmn gan?
    Ada gk menabung tanpa ada bunga plus biaya administrasi?

    • February 7, 2015 at 1:52 pm

      Ada. Pakai akad wadi’ah.

  20. Ratu
    February 3, 2015 at 3:21 pm

    Semua bank ada tabungan yang akadnya tanpa bunga. Bank Sumut juga ada, namanya tabungan Wadi’ah (artinya titipan).

    • February 7, 2015 at 1:53 pm

      Ok. Terima kasih informasinya.

  21. Ratu
    February 3, 2015 at 3:23 pm

    Tanpa adm, pajak dan bunga.

  22. March 6, 2015 at 10:21 am

    Assalamu’alaikum. Jadi ujung2nya narik uang dari Bank Mandiri ya akhi?

    • March 6, 2015 at 4:26 pm

      Ya. Karena bank mandiri membatalkan perjanjian sepihak.

  23. May 13, 2015 at 10:37 am

    Alhamdulillah… pikiran ana juga sama.. coba browsing.. menclok di blog ini.. hehe..

    ana ada ide lain…

    gunakan rekening koran sebagai monitor bunga yang kita peroleh setiap bulan…

    nominal bunganya antum keluarin saja setiap bulan…

    tapi hanya sebagai bentuk ikhtiar saja…

    untuk biaya admin,. ane sih sangat ikhlas sebagai jasa kemudahan transaksi jual beli

    Wallahu’alam…

    • May 19, 2015 at 8:50 pm

      Terima kasih untuk informasi tambahannya.

  24. Ghina
    July 8, 2015 at 6:29 am

    Assalaamu ‘alaykum
    Pak Dokter, saya baru ada niatan buka tabungan pensiun di bank Muamalat. Setau saya, secara garis besar, ada saldo minimal yang harus ditabung per bulan dan ada targetan mengenai mau berapa tahunkah menabung pensiun. Jika nasabah mangkat sebelum target tahun menabung tercapai, nasabah mendapat uang kematian untuk ahli warisnya. Jika usia nasabah mencapai target tahun menabung, nasabah akan mendapat tabungannya, ditambah dengan tbahan-tambahan tertentu. Saya rasa ini mirip dengan asuransi.. Jadi ada rasa keraguan pula..
    Yang ingin saya tanyakan: adakah riba pada sistem yang seperti tabungan pensiun muamalat ini? Sebenarnya definisi riba itu yang seperti apa? Saya benar benar kurang ilmu mengenai ini.. Mohon bantuan Bapak.. Jazaakumullaahu khoyron..

    • October 3, 2015 at 8:53 am

      Wa’alaykumussalam. Maaf sebelumnya, saya tidak berkompeten dengan hal ini. Untuk pertanyaan bisa diajukan ke konsultasi online seperti http://www.rumahfiqih.com/soal.php Terima kasih sebelumnya.

  25. September 19, 2015 at 2:50 pm

    Apa hukumnya gaji yang diterima pegawai bank?.

    • October 3, 2015 at 9:16 am

      Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, yang mencatat, dan dua saksi” (HR. Muslim).

      Pegawai bank yang mencatat, dan menjadi saksi maka tidak halal. Klo pegawai bank statusnya security atau cleaning service dan yang tidak bersentuhan dengan riba maka gajinya halal.

      • Fandi Ahmad Abdillah
        October 10, 2015 at 6:53 pm

        Bukannya mereka (security & cleaning service) digaji dengan uang hasil riba ya??

      • October 14, 2015 at 9:22 am

        Akad di depan security adalah menjaga aset. Masalah digaji oleh bosnya pake uang korupsi, uang riba, uang yang didapatkan dari hal yang haram itu tanggungjawab yang memberi. Seperti halnya pembantu rumah tangga yang digaji oleh majikannya yang ternyata penghasilan sang majikannya bukan dari cara yang halal. Maka pembantu rumah tangga yang akad diawal tidak ikut-ikutan berbuat maksiat tidak bisa dikatakan menerima uang haram karena pekerjaannya tidak menyentuh hal-hal yang haram.

  26. Deni
    February 29, 2016 at 2:23 pm

    Assalamualaikum, sy punya rekening bank muamalat dg akad mudharabah, sy mau pindah/buka rekening baru di bank muamalat dg akad wadiah? Bgmn kira2 ya? Apakah akad wadiah di bank muamalat sama dg akad wadiah di bni syariah?
    Terima kasih.

  27. jarwo
    March 1, 2016 at 2:38 pm

    assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
    saya ingin bertanya pak, akad wadiah (titipan) itu ada 2 jenis yaitu akad wadiah yad dhanamah dan wadiah yad amanah, akad yang mana kah yang di gunakan pada bank syariah?
    klo akad wadiah yad amanah itu tidaklah masalah, tp klo akad wadiah yad dhamanah ini yg membuat saya bingung, karna akad ini membuat uang kita mesti di gunakan untuk bisnis dan proyek2 bank yang bersangkutan tetapi kita tdk mengetahui apakah bisnis yg dilakukan itu haram atau halal. dan allah telah menjelaskan dlm al-quran “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2).
    dan apabila kita tidak mengetahui uang kita digunakan secara halal atau haram, apakah kita masih bisa untuk menabung di bank syariah?

    terima kasih
    .

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: