Home > Doctor4Khilafah > Pengobatan Herbal (Seharusnya) di Tangani Dokter

Pengobatan Herbal (Seharusnya) di Tangani Dokter

Sebuah usulan untuk Khalifah yang akan memimpin umat

Tidak jarang para tenaga medis di puskesmas maupun di RS mendapati pasien yang telah lebih dahulu ditangani oleh terapis herbal, namun kondisinya jauh menjadi lebih buruk dari kondisi awalnya. Kalau di puskesmas yang sering dijumpai ialah perburukan keadaan pasien yang belum dikategorikan kegawat daruratan. Mungkin ada satu, ada dua kasus tetapi saya tidak menjumpainya. Masalah ini berkaitan dengan etika dan nyawa seorang manusia, sehingga masalah ini bukanlah masalah sepele. Perlu adanya penanganan serius dari pemerintah.

Mashalih an-naas (Pelayanan Masyarakat) yang bergerak di bidang kesehatan dibawah Khalifah, atau kementerian kesehatan dan pihak terkait yang berkecimpung dalam kesehatan perlu memikirkan solusi untuk permasalahan ini. Solusi yang menyeluruh dan tidak setengah-setengah.

Perlu diadakannya uji kompetensi kedokteran dan pengobatan herbal dibawah lembaga tertentu dalam struktur pemerintahan untuk merealisasikan ini. Bukan karena apa-apa, tetapi upaya ikhtiar bersama demi kebaikan bersama antara tenaga medis dan pasien yang bertujuan guna menyamakan konsep kedokteran agar kedepannya bisa saling sinergis, tidak asal main tembak dalam pemberian terapi obat-obatan. Menyeragamkan pola pikir tentang penyakit, pada regio mana yang sakit, bagaimana fisiologisnya, patologisnya, apa yang patologis (error), bagaimana agar tidak patologis, apa tindakan rasional untuk mengembalikan fungsinya, apa komplikasinya jika dibiarkan, apa efek sampingnya kalau dilakukan pengobatan atau tindakan X, dan lain sebagainya. Sekali lagi, ini untuk meminimalisir pengobatan herbal yang irrasional.

Masih menjadi misteri bagi saya, apa yang didapat pada kursus pengobatan herbal yang singkat? Kalau pesertanya berasal dari kalangan dokter, tentu tidak menjadi masalah. Para dokter sudah ada ilmu basic sehingga mudah untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu sebelumnya. Dokter muda (sebutan untuk para lulusan sarjana kedokteran yang mengikuti pendidikan profesi dokter umum) yang sudah duduk dibangku kuliah bertahun-tahun pun harus tetap didampingi dokter spesialis untuk mengintegrasikan antara teori dan kasus nyata di lapangan dalam jangka waktu yang tidak singkat, yaitu 2 tahun. Berbeda ceritanya jika yang mengikuti kursus singkat berasal dari orang-orang awam dibidang kedokteran. Apa yang akan didapat dari kursus singkat itu? Jangankan 2 tahun, 1 tahun pun tidak sampai. Mahasiswa kedokteran selama 1 tahun yang didapatkan hanyalah istilah-istilah kedokteran, kehidupan sel, kehidupan biotic dan abiotic dilingkungan, ilmu tentang parasit, dan lain sebagainya. Bagaimana jika kursusnya hanya beberapa hari?

Kalau pun ada yang memang “berprestasi” karena sebelumnya belajar dari buku-buku kedokteran secara otodidak atau memang sebuah “kejaiban “dari Allah, saya rasa tetap harus mendapat sertifikat untuk menjadi seorang terapis herbal yang didapat dari uji kompetensi, mendapatkan surat ijin praktek berjenjang, dan tentunya SKP. Pemerintah perlu memanggil terapis herbal senior yang sudah sangat ahli untuk bersama-sama duduk dan membahas penyatuan konsep dan kode etik terapis herbal, mendirikan lembaga majelis kehormatan etik atau digabung dengan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDK), dan lain sebagainya. Selain itu juga perlu adanya pembatasan wewenang dalam menangani pasien.

Pendidikan kedokteran yang berjenjang dari pendidikan sarjana kedokteran, kemudian pendidikan profesi dokter, diuji lagi dengan penyeragaman persepsi dalam Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) merupakan ikhtiar untuk menjaga agar dokter nantinya punya pola pikir yang sama ketika menjumpai penyakit dan bagaimana terapi rasional untuk mengobatinya. Luasnya bidang kedokteran secara rasional sulit untuk dikuasai oleh satu orang saja, sehingga munculah pendidikan profesi dokter spesialis (PPDS), pendidikan profesi dokter sub spesialis, sampai kepada tataran konsultan. Bagaimana dengan kursus herbal?

Pengobatan tradisional mengaku menguasai segala macam penyakit dan mengobati tanpa efek samping. Sungguh menggelikan dua poin ini. Ditambah lagi dengan klaim TANPA OPERASI!

Lebih miris lagi ketika ada beberapa pengemban dakwah yang menjadi terapis herbal dan mengatakan hal yang sama, “Mengobati segala macam penyakit tanpa efek samping dan tanpa operasi”. Padahal mendistrosikan fakta dan membongongi umat justru akan menghambat dakwah. Semoga bisa menjadi bahan renungan bersama.

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Wallaahu a’lam.

Hanya sebuah opini, santai saja🙂

CMIIW

Categories: Doctor4Khilafah
  1. dr MHD IBRAHIM NASUTION
    November 8, 2013 at 9:05 pm

    pendapat saudara sangat bagus menurut saya.tetapi pernahkah anda berpikir bahwa setiap sistim ada kekurangannya, ada kelemahannya.hanya sistim Allah yang sejuta persen absolut benar.begitu juga pengobatan medis ada kelemahannya.obat untuk aids saja belum ditemukan sampai sekarang.tapi percayakah anda bahwa hanya dengan air biasa yang dibacakan ayat ayat Allah kedalamnya oleh seorang yang dekat dengan Allah bisa menyembuhkan penyakit pasien yang sudah bertahun tahun tidak bisa disembuhkan oleh medis.saya juga seorang dokterdi aceh.jadi kesimpulannya adalah usaha (penelitian dan segala macam lainnya)tidak akan berhasil tanpa rahmat dari Allah swt.jangan menjustifikasi sesuatu sembarangan.

  2. May 10, 2015 at 9:45 pm

    Ya nggak semua herbalis kayak gitu kok, buktinya Opa saya udah lama pakek obat Herbal dengan Merk “Tasly” dan khasiatnya bener2 ampuh, bayangin udah umur hampir 81 tahun, tapi untuk naik tangga Opa saya nggak suka saya pegang tangannya alias dituntun.

    Kita nggak boleh ngambil kesimpulan cuma dari satu pihak yang melakukan suatu prosedur yang salah. Jika yang diatas mmng benar, saya bisa bertaruh kalau sebenarnya masih ada kok lembaga yang berwenang yang akan mengajari kita ttg herbal dengan benar sampai kita punya sertifikat.

    Dan satu lagi, sebenarnya bukan pengajarnya sendiri yang salah, melainkan orang yang ngasal2 an buka klinik nggak jelas dgn pola “Herbal” itu yang salah…

    Intinya nggak usah terlalu menghakimilah…

    Orang Tuhan yang berwenang menghakimi seseorang, bukan kita,..

    #Just..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: