Home > Uncategorized > Tanggapan Untuk Artikel “Karena Eliyas Bukanlah Ibas” (Part 2)

Tanggapan Untuk Artikel “Karena Eliyas Bukanlah Ibas” (Part 2)

peringatanSebuah tanggapan untuk tulisan Karena Eliyas Bukanlah Ibas

ARTIKEL

Mungkin akan ada yang mendukung semua pihak terkait, tapi mohon maaf, saya sudah sulit untuk mempercayainya. Di alam demokrasi yang berkelindan dengan kapitalisme uang dan pamor adalah dewanya. Konsep egalite dan fraternite yang diusung demokrasi adalah kampanye kosong yang hidup di angan-angan para pendukungnya. Bila benar, mengapa ada film seperti John Q atau yang riil semacam Sicko-nya Michael Moore? Saya sinis pada demokrasi sesinis kedua film itu.

Tanggapan:

Seorang pengemban dakwah bukanlah orang suka menutup mata dan telinga. Mengkritisi demokrasi bukan dengan membabi buta. Melontarkan statemen “saya sudah sulit untuk mempercayainya” kurang lebih sama saja seperti mengatakan “Pokoknya tidak percaya dengan demokrasi” Seseorang yang sudah membuat tabir demi menunjukkan pembenaran diri dengan mengandalkan media tanpa melihat sendiri fakta sebenarnya sungguh sangat disayangkan. Seorang pengemban dakwah tidak layak mempunyai prinsip “bad news is good news” yang penting demokrasi salah. Seorang pengemban dakwah harus mampu menjelaskan duduk permasalahannya sebelum menulis opini yang menggiring umat untuk membenci demokrasi.

ARTIKEL

Sudahlah minim ditambah dengan carut marutnya tatakelola anggaran kesehatan. Banyak RSUD yang menolak melayani pasien miskin karena pemda setempat tak kunjung mencairkan piutang mereka. Begitupula para bidan banyak yang mengeluhkan dana jaminan persalinan (jampersal) yang sering molor dan kena potong pula. Akhirnya membuat para bidan setengah hati mengurus persalinan warga miskin.

Tanggapan:

Apakah RS yang bersangkutan harus menerima pasien meskipun NICU penuh? Kalau memang orientasinya uang, maka RSUD akan menerima pasien apapun dan ditempatkan di ruang anak biasa. Tapi faktanya tidak demikian. RS bukan lahan untuk mencari uang. Klo untuk mencari uang maka tidak masalah piutang dengan pemerintah karena pasti akan dibayar entah 6 bulan atau 1 tahun yang akan datang. Dokter sudah bermaksud baik dan sesuai prosedur kedokteran dengan memberi tahu kepada pasien bahwa NICU penuh dan harus mendapatkan pertolongan di tempat lain. Bukan malah main terima-terima pasien mana saja.

NICU bukanlah arena permainan anak, NICU butuh dokter spesialis anak konsultan perinatologi untuk ditugaskan di setiap NICU. Jangankan dokter umum, dokter spesialis anak saja tidak sembarangan bisa menangani di NICU. Maka penambahan dokter spesialis anak menjadi sebuah tuntutan. Namun untuk menjadi dokter anak apalagi konsultan perinatologi tak mudah semudah beropini untuk menyalah-nyalahkan dokter, RS dan demokrasi.

Bidan mengurus persalinan warga miskin setengah hati? Fakta yang saya temukan di lapangan tidak demikian. Atau penulis punya referensi hasil penelitian terkait hal ini? Setahu saya fakta yang saya temukan di lapangan,  bidan juga sering menggratiskan persalinan saat jampersal belum diberlakukan. Statemen “Akhirnya membuat para bidan setengah hati mengurus persalinan warga miskin” sama saja menuduh bidan berorientasi uang. Mengapa dokter dan bidan selalu dituduh berorientasi uang? Saya merekomendasikan siapapun yang menuduh demikian untuk mencobalah terjun ke masyarakat dan mengadakan penelitian secara acak disejumlah daerah kemudian baru tuangkan kesimpulan di karya ilmiah agar data yang diperolehnyanya valid. Tidak sekedar tuduhan tak berdasar. Saat Jampersal diberlakukan di masyarakat, para bidan malah senang karena tidak akan lagi menggatiskan pasien. Ketika ada warga miskin akan bersalin maka bidan akan meminta keluarga pasien untuk mengurus Jampersal. Keuntungannya, bidan tak perlu lagi “bermain perasaan” untuk menggartiskan, menurunkan tarif, ataupun tetap kepada tarif normal. Karena bidan sering kali “bermain perasaan” untuk menurunkan tarif, atau bahkan sampai menggratiskan.

Baca juga: Tanggapan Untuk Artikel “Karena Eliyas Bukanlah Ibas” (Part 1)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: