Home > Coass Story > Jadi Mahasiswa Kedokteran Itu… (2)

Jadi Mahasiswa Kedokteran Itu… (2)

mahasiswaKita kembali sambung cerita minggu kemarin tentang Jadi Mahasiswa Kedokteran Itu…🙂 Selain persyaratan itu semua sebenarnya masih ada tugas akhir yang namanya Karya Tulis Ilmiah (KTI) atau disebut skripsi. Skripsi harus berbentuk analitik, ga boleh deskriptif. Padahal lebih simple deskriptif tapi ya harus nurut aja klo mau wisuda😀

Wisuda S1 bukanlah akhir dari perjuangan. Sarjana Kedokteran tidak seindah sarjana-sarjana yang lain. Ini sarjana yang singkat, hanya 2 tahun! S.Ked yang melekat dibelakang nama kita akan hilang seiring berakhirnya masa studi profesi dokter. Ya, Anda ga salah baca. Gelar S.Ked yang melekat di nama belakang para dokter HILANG. Mungkin karena tak lazim, atau terlalu panjang atau menuh-menuhin klo bikin papan nama? Ga tau juga😀 Padahal sarjana psikologi meskipun sudah menjadi psikolog S.Psi masih melekat, sarjana farmasi meskipun sdh menjadi apoteker gelar S.Si atau S.Farm masih melekat. Tapi apakah pernah lihat gelar S.Ked dibelakang nama dokter? Ga ada kan?😀

S.Ked adalah pintu penderitaan selanjutnya. Keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya haha😀

Mungkin mahasiswa yang belum merasakan koass melihat koass itu mengasikkan. Bisa jadi orang non medis pun berpendapat demikian. Tapi sebenarnya klo mau jujur, menjadi koass itu tersiksa😀 Apalagi klo stase mayor. Stase mayor itu (Interna, Pediatik, Bedah dan Obsgyn). Di interna, saya berangkat ke RS sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari terbenam. Sampai kos langsung tidur. Jangankan menyentuh buku atau tugas-tugas. Halaqah? Boro-boro😀 Makan aja kadang sampai lupa. Bagaimana dengan shalat isya? Tetep harus dijalankan dong meskipun…😀

Berjalan beberapa hari akhirnya gak kuat. Kemudian ganti dan atur jadwal dengan teman-teman. Alhamdulillah leih ringan. Bisa berangkat jam 7 pagi dengan risiko 4 bangsal menjadi tanggungjawab 1 orang koass. Tapi ya meskipun bisa berangkat lebih siang, pulang tetep aja pas adzan maghrib😀

gd c rsi sultan agungSaat di interna, naik turun bangsal 4 lantai setiap saat. Sehari berapa kali naik turun tangga ga bisa diinget-inget lagi. Saat itu bulan Ramadhan. Kebayang kan? haha… Rata-rata selama 1,5 bulan di interna teman-teman saya turun 4-5kg, saya turun 7kg. Dahsyat kan😀 Gak cuma otot yang disiksa, otak juga. Presentasi kasus atau Case Based Discussion (CBD), Mini Ce Ex, BST, DOPS, Penyuluhan, Journal Reading dan lainnya menunggu untuk diselesaikan.

Presentasi kasus itu mempresentasikan pasien yang dianggap bagus secara teori. Bukan kondisinya yang bagus, tapi tanda dan gejalanya jelas dan bisa untuk dipelajari. Kita dituntut untuk menggali kenapa Tn.X menderita hipertensi, apa sebebnya, bagaimana terapinya, bagaimana edukasinya, apa komplikasinya, dan seterusnya. Semuanya dibahas plus teorinya. Misalnya Tn.X menderita hipertensi, kita juga harus mengupas apa itu hipertensi seuai dengan teori. Klo Mini Ce Ex dibahas kondisi pasien tanpa presentasi teorinya, jadi lebih simpel. Klo BST itu pemeriksaan fisik. Kita melakukan pemeriksaan fisik di poli atau di bangsal di depan dokter konsultan kita. Bagaimana memeriksa setiap keluhan pasien. Contohnya memeriksa jantung, paru-paru atau abdomen. Klo DOPS itu semacam praktek skill. Contohnya pemeriksaan colok dubur atau rectal toucher (RT), Vagina toucher (VT) untuk melihat pembukaan berapa, dan saya sering banget salah kalau main tebak-tebakan dengan bidan karena kurang jam terbang haha..😀 selain pemeriksaan, ada skill lain seperti pemasangan cateter urine, NGT, menjahit luka, dll. Ada juga DOPS yang berupa partus atau membantu persalinan.

Klo tugas penyuluhan, kita diminta membuat leaflet, atau sekedar presentasi menggunakan powerpoint untuk dipresentasikan di depan poliklinik. Kita presentasi tentang stase kita. Klo stase anak ya presentasi seputar imunisasi, penyakit anak, dll. Klo di stase saraf ya presentasi tentang stroke, vertigo, dll. Ngikutin deh pokoknya.

Ada juga tugas nerjemahin jurnal dan dipresentasikan. Nama tugasnya Journal Reading. Kapan waktu nerjemahinnya ya klo kegiatannya aja padet gitu. Ya betul. Kadang kita kerjasama dan minta bantuan untuk haha😀 Gak perlulah diceritainlah😀

Di IGD dan bangsal apa aktifitasnya? Jadi tukang tensi, bawain status pasien, juru tulis, dorong-dorong brankar😀

Sedikit intermezo :
Dokter? | bukan! | tenaga kesehatan? | Iya! | kuli? | bisa jadi! | di RS? | iya! Iya!!! | koass? | iyaaaaa!!!😀😀😀

Yang pernah koass, pasti mengiyakan di dalam hati😀 Mri kita lanjutkan ceritanya. Ada satu stase yang menarik. Stase forensik. Di stase ini diberlakukan sistem on call. Klo ada mayat yang akan diotopsi semua koass harus datang untuk ikut mengotopsi mayat. Di sinilah para koass menjadi tahanan kota. Bersiap siaga langsung meluncur kalo ada panggilan. Ada yang jalan-jalan ke mall bawa jas koas, dan sepatu haha..😀 Halaqah pun sambil tengok-tengok hp barangkali ada panggilan mendadak😀

Pada suatu kesempatan, ada hari libur nasional. Semua koass libur. Saya dan teman saya sarapan pagi makan soto. Kami bertiga membicarakan sate dihadapan kita yang mirip daging mayat yang pernah kita otopsi. “Eh, satenya kayak mayat kemaren. Yuk kita “otopsi” bareng”, maksudnya otopsi adalah dimakan. Saat itu juga hp saya berbunyi dari nomor tak dikenal. Saya angkat dan si penelepon berkata, “Ada otopsi 2 mayat sekarang. Tolong kabari yang lain” Huuuaaa…. langsung deh habisin makan dan broadcast, bbm group koass forensik, sebar sms, sampai pasang status “Otopsi sekarang. Ada 2 mayat”. Ga taunya tanggapan teman-teman, “Aah.. boong, ini lagi santai-santai neh”. “Serius? ini saya lagi pergi”. Ada juga, “Jangan bercanda, nanti ada otopsi beneran”. Ada pula yang gini, “Ari, jangan suka ngomong jorok”. Saya tanggapi, “Gak percaya ya sudah, yang percaya segera berangkat!” Dan semua langsung panik haha…😀 Teman saya yang saat itu makan pun ikut nanggapi, “Ini serius. Yang kemaren diamanahkan bawa kamera, bawa. Yang kemaren dapat amanah bawa laptop, bawa” Semua nampak kalang kabut. Pasang ststus panik dan ada yang pasang status sedih sampai nangis😀😀😀

Kisah senang dan haru di koass itu sangat indah untuk dikenang. Tapi tidak untuk diulang. Banyak sekali pengalaman kocak, sedih, terharu, dan lain sebagainya. Semua campur aduk di koass. Berdiri berjam-jam saat operasi, dimaki-maki kalo salah nyebut nama jaringan saat operasi, dibentak-bentak di poli sampai pasien di sekeliling kita mendengar semua, mau tidur tenang ga bisa, baru tidur beberapa menit pintu kamar diketok, “pasien baru”. Belum selese, ada panggilan telepon yang mengabarkan klo ada pasiennya demam tinggi, muntah-muntah, atau bahkan henti napas. Tugas seabreg harus diseesaikan tepat waktu juga ikut mewarnai kehidupan koass. Selain itu juga kita follow up pasien sebelum subuh, telat mandi sampai dokter konsulan datang😀 Beragam deh pokoknya.

Sedikit intermezo (lagi) :
“Jadi koass susah dijalanin, tapi menyenangkan. Think again.”

Gitulah koass.. Ada sejawat yang sudah bikin lagu tentang koass juag lho. Untuk mendengarnya silahkan klik di sini

Kegiatan beginian berlangsung selama 18 bulan. Cukup melelahkan bukan? Klo stase minor sih agak santai. Stase minor itu kulit kelamin, radiologi, THT, mata, saraf, kesehatan masyarakat, gigi dan mulut, jiwa, anestesi dan forensik. Anestesi meskipun stase minor tapi capeknya ga kalah dengan statse mayor. Klo forensik itu bikin tidur gak nyaman karena meskipun tidur kita harus pastikan HP kita dalam kondisi ON dan gak boleh lobet. Apalagi klo saat sore hari mendengar berita dari salah stasiun TV swasta, “Telah terjadi pemerkosaan dan pembunuhan di daerah semarang”. Glek, siap-siap dapat panggilan. Tapi sampe pagi gak ada panggilan, berarti mayatnya mungkin di otopsi di RS lain dan dilakukan koass lain. Alhamdulillah gak ada kerjaan😀

Setelah selesai dari koass, kita harus ikut Try Out UKDI. Pendaftarannya jauh hari sebelum Try Out. Setelah Try Out UKDI ada pendaftara UKDI. Pendaftaran UKDI ditutup 1 bulan sebelum UKDI dan pengumuman kelulusan sebulan setelah UKDI. Nah lho, umur kita banyak terpakai untuk sekedar menunggu😀 Menunggu TryOut UKDI, menunggu pengumuman Tryout UKDi, menunggu ujian UKDI dan menunggu pengumuman kelulusan UKDI. Baru kemudian nunngu lagi😀 Nunggu sumpah dokter maksudnya.

Setelah sumpah dokter, berarti sudah selesai? Ooh, tentu saja tidak! Kita hanya mendapat Ijazah dokter dan lafadz sumpah. Kita belum dapat Surat Tanda Registrasi (STR) untuk bikin Surat Ijin Praktek (SIP). Kita hanya dapat STR Sementara untuk magang di RSUD Tipe C di seluruh Indonesia. Tapi saat ini sesuai teritorial kampus kita berasal. Klo kampus kita di Jawa Tengah ya kampus kita mendaftarkan ke Dinkes Jawa Tengah, berarti kita akan ditempatkan oleh Kemenkes di RSUD di wilayah Jawa Tengah. Klo kampus kita di Jawa Barat ya kampus kita mendaftarkan ke Dinkes Jawa Barat, berarti kita akan ditempatkan oleh Kemenkes di RSUD di wilayah Jawa Barat. Tapi Klo kampusnya di DKI ya harus luar pulau, karena di DKI RSUD tipe C mungkin sudah tidak ada. Gajinya? Dibawah UMR! Kita bahas di sesion berikutnya🙂

IGD RSIA Assalam
Bogor, 20 September 2013

Categories: Coass Story
  1. November 30, 2015 at 9:38 am

    setiap usaha pasti akan membuahkan hasilnya. Sama halnya dengan perjuangan para mahasiswa kedokteran untuk menjadi dokter. Suatu saat pasti bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi masyarakat yg membutuhkannya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: