Home > Uncategorized > 27 November 2013, Gerakan 1 Hari Tanpa Dokter

27 November 2013, Gerakan 1 Hari Tanpa Dokter

stop-kriminalisasi-dokterKlo nanti ada orang yang butuh pertolongan medis dalam kondisi gawat darurat, apa yang harus dilakukan oleh dokter? A. Menolong B. Membiarkan. Klo menolong dan pasien gagal ditolong (meninggal) dan dituntut dengan tuntutan malpraktek maka Anda bisa dipenjara. Klo Anda menjawab membiarkan, maka Anda pun bersalah karena melanggar sumpah profesi dan membiarkan manusia tanpa pertolongan medis sama sekali tidak manusiawi.

Beginilah keadaan dokter di negeri dongeng, negeri Indonesia..

(Bogor, 14 November 2013)

***************************************************
Saat pendidikan kegawatdaruratan, dokter harus mengutamakan lifesaving. Dibenarkan bagi dokter untuk melakukan tindakan lifesaving tanpa informed consent (ijin tertulis) keluarga atau walinya.

Ada kondisi yang dinamakan golden period. Bisa 3 jam, 6 jam, dst tergantung jenisnya. Kondisi di mana pasien dapat diselamatkan dalam periode itu. Jika pasien telah melewati golden period maka tingkat keselamatan pasien menipis.

Ada juga kondisi di mana harus segera bertindak dengan waktu interupsi hanya 10 detik. Kondisi henti jantung. Angka keselamatan pasien berkurang hingga 10% setiap menit yang terlewati.

Kasus yang baru-baru ini muncul ke permukaan dan menimpa sejawat, dinilai melakukan malpraktek karena tidak melakukan informed consent dan pemeriksaan pendahuluan berupa ekg, dsb. Hal ini sepertinya akan berdampak sistemik bagi tenaga kesehatan kedepannya.

Apakah nantinya jika ada pasien datang dengan kondisi kegawat daruratan diantar tetangga atau orang lain yang kebetulan melintas dan membawanya ke RS, para dokter perlu menunggu sampai polisi melacak di mana keluarganya dan menghubungi keluarganya untuk mendapatkan ijin tindakan medis? Jika demikian maka prosentase keselamatan pasien akan semakin buruk. Namun jika dokter melakukan tindakan medis berpacu waktu dengan golden period untuk menyelamatkan nyawa pasien dan gagal, keluarga lantas menuding dokter melakukan malpraktek dan harus dipenjara.

Jadi apa maunya LSM dan MA sebenarnya?

Apakah kedepannya untuk cari aman, nanti kalau menemukan orang kecelakaan, terbakar, tenggelam, dsb. jangan lantas terburu-buru dibawa ke RS sampai keluarganya yang mengantarkannya ke RS?

Kalau di Bandara ada penumpang yang serangan jantung, dan kebetulan dia saat itu tidak ditemani keluarganya, tak perlu dokter yang saat itu berada di bandara melakukan apapun termasuk memecahkan kotak penyimpanan alat defibrilator sampai keluarganya mengijinkan untuk dilakukan defibrilasi.

Sepertinya ini yang dimaukan para LSM kurang kerjaan itu.

(Bogor, 15 November 2013)

***************************************************

Ternyata apa yang dulu saya tuliskan di status fb namanya “Defensive Medicine” Klo mau cari aman sepertinya harus gitu.

Dokter perlu meminta aspek medikolegal dari suatu tindakan. Klo mau main aman harus mempunyai kelengkapan aspek medikolegal sehingga tidak dipersalahkan ketika berada di gugatan hukum.

Klo ada pasien gawat darurat tak perlu lah lari-lari seperti dulu di IGD saat internsip, toh kita perlu melindungi diri sendiri dengan cara meminta izin tertulis dan menjelaskan sejelas-jelasnya kondisi pasien, tindakan apa yang akan dilakukan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kondisi pasien memburuk ya gimana lagi. Daripada ditangani sesegera mungkin namun gagal menyelamatkan terus dituntut? Masalahnya sekarang menolong orang disamakan dengan pembunuhan.

Besok Indonesia tanpa dokter.
Tetapi pelayanan gawat darurat tetap dilayani.
Lihatlah disaat seperti ini pun kami masih pake nurani..

(Bogor, 26 November 2013)

***************************************************

Jika permasalahan ini tidak segera ditangani secara baik, mau ga mau para dokter akan memasuki era Defensive Medicine. Siapa yang rugi? Ya pasien tentunya. Hari ini 27 November 2013, Gerakan 1 Hari Tanpa Dokter, menjadi momen bersejarah bagi dunia kedokteran. Tidak ada niatan buruk apapun dalam pelaksanaan gerakan tersebut. Kami sedang memperjuangkan demi keselamatan bersama.

Apa yang akan terjadi jika dokter akan bermain aman dengan melakukan Defensive Medicine?

Prosedur berlebihan akan diterima pasien untuk kedepannya. Rangkaian-rangkaian pemeriksaan laboratorium ini itu, USG, rontgent, CT Scan dll yang sebenernya tidak diperlukan, terpaksa dilakukan hanya untuk menyingkirkan diagnosa banding. Untuk apa? Demi tegaknya diagnosis berdasar beragam bukti dan keamanan dokter tentunya. Biaya berobat pun akan semakin meroket. Lalu siapa yang rugi?

Era Defensive Medicine akan membuat dokter tidak melakukan tindakan apapun sampai keluarga pasien memberikan ijin dilakukannya tindakan dengan segala risiko termasuk kematian. Misalnya pada kondisi henti jantung. Angka keselamatan pasien berkurang hingga 10% untuk setiap menit yang terlewati. Mulai menit ke-4 kerusakan otak terjadi. Apa yang akan terjadi dengan pasien pada menit ke-10? Siapa yang rugi? Wajar ketika nanti dokter menunda melakukan penanganan guna melengkapi kelengkapan informed consent terlebih dahulu agar tidak dipersalahkan ketika berada di gugatan hukum.

Pasien dengan hipoglikemi, dehidrasi berat, dll yang membutuhkan penanganan segera menjadi terlambat karena dokter akan menunggu persetujuan keluarga. Semua ini sekali lagi karena dokter cari aman.

Dokter berlebihan? Iya, itu karena kemauan pemerintah negeri ini yang telah melakukan kriminalisasi dokter. Dokter kini disamakan dengan pembunuh. Kedepannya para dokter akan selalu cemas dalam menjalankan profesinya karena ketika akan melakukan tindakan medis dokter dituntut mampu untuk menyelamatkan pasien. Padahal dia bukan yang menentukan hidup matinya manusia. Klo dokter selalu cemas dalam melakukan pembedahan, pengobatan ataupun tindakan medis lainnya, dokter akan sulit berkonsentrasi dan berfikir jernih. Sebagai akibatnya profesionalisme dokter menurun. Cari aman dengan menunda tindakan medis menjadi cara teraman baginya.

Mari sudahi polemik ini. bebaskan dan pulihkan jika memang menurut standar pelayanan medis sudah benar. Biarkan para dokter bertugas dengan tenang, agar kenyamanan bisa dirasakan bersama.

STOP Kriminalisasi Dokter
Dokter BUKAN Pembunuh

(Bogor, 27 November 2013)

***************************************************

Categories: Uncategorized
  1. kumcer(dot)com
    November 28, 2013 at 8:07 pm

    setuju baanget,, kebetulan saya juga share cerita yang sama tentang defensive medicine
    http://www.klikharry.com/2013/11/28/dokter-demo-defensive-medicine-apa-itu/

    • November 29, 2013 at 9:28 am

      Sudah saya baca artikelnya dok, Di akhir cerita sangat mengharukan..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: