Home > Fiqih Medis > Menghilangkan Pengaruh Sihir

Menghilangkan Pengaruh Sihir

SihirTentang Ruqyah Syar’iyah dan Larangan Berobat kepada dukun, tukang sihir dan semisalnya.

[Disadur dari Majalah Asy Syariah]

Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Perbuatan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

‘Arraf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (ghaib), dengan bantuan jin, atau perantara lain yang tersembunyi (gaib) atau samar. Bertanya kepadanya tentang yang demikian tidak boleh, demikian pula membenarkannya; berdasar sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Apabila sakit maka dianjurkan datang ke dokter untuk mengobati penyakit/masalah yang sedang dihadapi dengan memakai obat-obat yang memang diketahui sebagai obat, baik dengan suntikan, pil/tablet/kapsul, atau yang lainnya.

Bisa pula berobat kepada seorang pembaca Al-Qur’an atau seorang muslim shalih (bagi laki-laki) atau muslimah shalihah (bagi wanita) yang akan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an (meruqyah). Semoga dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan pengaruh ‘ain atau sihir tersebut. Kalau terpaksa berobat kepada lawan jenis, maka jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan dengannya). Harus disertai orang lain, baik ibu, saudara laki-laki, ayah atau semisal mereka. Semoga Allah memberikan kemanfaatan dengannya.

Adapun meruqyah sakit yang diderita bisa dengan membacakan surat al-Fatihah, ayat Kursi, ayat penangkal sihir sihir dalam surat Al-A’raf (ayat 117-122), surat Yunus (ayat 81-82), dan surat Thaha (ayat 69). Juga membaca surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Surat-surat dan ayat-ayat tersebut dibacakan di air (yang diletakkan dalam wadah), setelahnya dibacakan doa, seperti :

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.

Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini tsabit (pasti datangnya) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. 

Setelah itu sebagian air itu diminum si penderita, dan sisanya untuk membasuh mandi. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga untuk pengobatan ‘ain, karena ‘ain itu diobati dengan ruqyah sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak ada ruqyah (yang paling tampak pengaruh/manfaatnya) daripada ruqyah terhadap penyakit ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”

Pengobatan bisa juga dilakukan dengan campuran air dengan tujuh lembar daun sidr (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menjadikannya bermanfaat. Ulama telah menyebutkan cara pengobatan seperti ini, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid. Beliau sebutkan dalam bab Ma Ja’a fin Nusyrah.

Tidak diperbolehkan bertanya atau meminta obat kepada tukang sihir, dukun (kahin) dan tukang ramal (‘arraf). Tidak diperbolehkan pula untuk membenarkan omongan mereka. Hendaknya hanya menemui ulama yang sebenarnya dan para pembaca Al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan. Mereka bisa membacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan dengan sebab-sebab tersebut.

Diantara yang sepantasnya untuk diamalkan adalah berdoa. Memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Dia menghilangkan segala gangguan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala harus dimintai. Dia berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)

Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah ‘Azza wa Jalla sendiri telah menjanjikan untuk mengabulkan doa. Maka menadi keharusan untuk bersungguh-sungguh dan jujur dalam berdoa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi kesembuhan.

Nasihat lain sebelum tindur, hendaknya agar meniupkan pada dua telapak tangan yang dibentangkan (seperti posisi mengangkat tangan saat berdoa) menjelang tidur dan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, masing-masing tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut diusap ke kepala, wajah dan dada (serta anggota tubuh lain yang dapat dijangkau) sebanyak 3 kali (pada setiap bacaan/tiupan). Cara ini termasuk sebab kesembuhan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengamalkannya. Di saat sakit ataupun tidak sakit beliau melakukannya ketika hendak tidur, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau -sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya-).

Disadur dari :
1. Majalah Asy Syariah, Vol. II/No. 24/1427H/2006, Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah. Judul: Membentengi Diri dari Sihir dan
2. Majalah Asy Syariah, Vol. VIII/No. 96/1434H/2013, Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah. Judul: Menghilangkan Pengaruh Sihir

Categories: Fiqih Medis
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: