Home > Doctor4Khilafah, Seputar Vaksin > Anti Vaksin, Upaya Melumpuhkan Generasi

Anti Vaksin, Upaya Melumpuhkan Generasi

A. Pendahuluan

Proses pembuatan vaksin sudah dimulai sejak abad ke 17M. Tiongkok dan Yunani Kuno merupakan negara-negara pertama yang melaporkan tentang inoculation (masuknya organisme penyebab penyakit ke dalam tubuh) dan variolation (vaksinasi) sebagai upaya mencegah cacar (smallpox). Korban cacar tertua yang tercatat dalam sejarah adalah Ramses V pada zaman Mesir Kuno tahun 1157M. Lady Mary Wortley Montagu, istri duta besar Inggris di Turki pada 1716 – 1718, dikenal sebagai orang yang pertama menyuntikkan bahan cacar di lengan manusia di Inggris pada tahun 1721M. Ia mengetahui teknik imunisasi dari orang-orang Turki yang berada dalam Negara Utsmani.

Pada 14 mei 1796, Edward Jenner dikenal sebagai orang yang pertama melakukan penelitian vaksinasi pada manusia. Penemuannya diawali dengan kerendahan hatinya mau mendengarkan kepercayaan para petani dan para wanita pemerah susu yang mengatakan bahwa mereka yang pernah terkena cacar sapi yang merupakan penyakit ringan, tidak akan terkena cacar yang mematikan. Akhirnya ia mengambil sampel dari cacar sapi dan dimulailah penelitian. Edward Jenner berhasil dalam melakukan penelitiannya dan sejak hasil karyanya yang berjudul “An Inquiry into the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae” dipublikasikan tahun 1798M, sejak itu pula vaksinasi sudah mulai mendapat pertentangan.

Satu abad kemudian, dunia kedokteran dikejutkan oleh penemuan ahli mikrobiologi dan kimia yang bernama Louis Pasteur. Pada tahun 1855 ia berhasil membuat vaksin pencegah anthrax dan rabies untuk manusia. Tahun 1938 mulai dipasarkan vaksin smallpox, dan vaksin tetanus toxoid untuk kalangan militer, 1940 dipasarkan vaksin difteri toxoid, 1946 dipasarkan vaksin pertusis, dan terus berkembang hingga tahun 2013 dipasarkan vaksin HPV untuk mencegah kanker leher rahim. Keberhasilan vaksin menekan angka kejadian infeksi terus terjadi seiring bertambahnya jenis-jenis vaksin.

Berbagai studi menunjukkan bahwa keberhasilan upaya imunisasi untuk melawan penyakit infeksi telah menyelamatkan jiwa manusia melebihi program-program kesehatan yang lain, kecuali penyediaan air bersih. Meskipun factor-faktor lain seperti ASI eksklusif, nutrisi yang baik, ataupun mencegah polusi udara tetap perlu diperhatikan, tanpa imunisasi mustahil penyakit infeksi berat seperti cacar, polio, difteri, tetanus atau campak dari waktu ke waktu semakin berkurang, bahkan musnah dari muka bumi. Namun penentangan terhadap vaksin pun belum berhenti bahkan hingga hari ini.

B. Anti Vaksin, Gerakan Konspirasi

Kelompok anti vaksin sama sekali tidak memiliki ilmu medis dan ilmu ushul yang memadai. Keberadaan mereka justru merusak tatanan program kesehatan yang digalakkan oleh pakar kesehatan. Program kesehatan yang hampir teratasi dibuatnya gagal melalui makar mereka. Akibatnya anggaran kesehatan yang minim sekali bertambah minim karena angka kesakitan (morbiditas) semakin meningkat. Kajian mengenai hal ini dikenal sebagai farmako-ekonomi. Kajian ini menjelaskan bahwa pencegahan penyakit melalui vaksinasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah daripada mengobati apabila seseorang telah jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit.

Selain aspek farmako-ekonomi, keberadaan bed di RS saat ini yang masih terbatas akan dibuat oleh mereka semakin terbatas hingga tidak mampu menampung pasien yang harus mendapatkan penanganan segera sehingga pasien-pasien yang seharusnya bisa tertangani harus antri. Apa motif kelompok antivaksin berbuat demikian?

Antivaksin seiring bertambahnya pengikut, bahkan dikalangan dokter yang notebene bukan bergerak di bidangnya semakin menjadi-jadi, bahkan sampai menjadi anti sains. Berbagai dokumen sejarah membuktikan bahwa ilmu kedokteran ikut meramaikan pengetahuan dunia pada era peradaban Islam. Namun ketika kedokteran diambil alih oleh peradaban Barat, umat diseru untuk bersikap anti kepada sains kedokteran secara keseluruhan. Bahkan tindakan yang menyangkut nyawa sekalipun seperti persalinan, umat diseru untuk anti kepada tenaga medis.

Kelompok antivaksin – antisains bergerak di pengajian-pengajian yang diselenggarakan di kampung-kampung dan yang semisalnya. Mereka seolah menargetkan agar aktifis pengajian balik kanan menyerang sains kedokteran. Latar belakang masyarakat umum yang tidak pernah mendapat pengetahuan kedokteran dibuat ragu. Ketidakpercayaan umat kepada dokter semakin dirasakan oleh para dokter saat ini. Terlebih pemberitaan di media yang dibuat bombastis dalam mencitrakan buruknya dunia kedokteran. Padahal seperti yang telah diketahui bersama bahwa mereka tidak memiliki basic ilmu kedokteran apalagi ushul. Mereka dengan sikap yang tidak tahu diri berani menentang ilmu kedokteran atas nama agama.

Sikap adil dan jujur harus menjadi prioritas dalam menyikapi masalah ini. Berbagai fakta yang dipublikasikan memberikan gambaran bahwa penyakit infeksi dapat ditekan bahkan dieradikasi (dimusnahkan) keberadaanya dengan bantuan vaksin. Indonesia bebas cacar pada tahun 1974, dan dunia terbebas dari cacar pada tahun 1978. Vaksin justru menguatkan dan menunjang eksistensi generasi sehingga manusia terhindar dari malapetaka dan kepunahan. Sedangkan kelompok antivaksin yang melakukan hal sebaliknya, berupaya melakukan pemusnahan eksistensi generasi secara massal.

C. Melumpuhkan Kesehatan Umat

Kelompok antivaksin semakin gerah dengan bantahan-bantahan yang ditujukan kepada mereka sehingga akhirnya mereka meminta agar keputusan vaksin atau tidak vaksin diserahkan kepada masing-masing individu, atas nama hak asai atau yang lainnya. Padahal keputusan vaksin atau tidak vaksin bukan hanya permasalahan individu, tetapi menyangkut permasalahan komunitas. Kelompok anak yang divaksin akan melindungi anak yang tidak bisa divaksin (anak yang menderita immunodefisiensi, leukemia, HIV). Memvaksin anak-anak sehat merupakan bentuk amal shalih kita kepada orang lain, insya Allah.

Kelompok antivaksin tidak menerima teori herd immunity yang dicetuskan oleh Hedrich pada tahun 1933M. Tetapi para antivaksin pun belum mampu mematahkan teori tersebut, sehingga satu-satunya cara untuk melawannya dengan mengatakan “Teori Herd Immunity merupakan akal-akalan perusahaan vaksin”. Menyalahkan dan melemparkan tuduhan tanpa mampu mematahkan teorinya merupakan ciri khas kelompok antivaksin. Namun ketika teori herd immunity diabaikan dan wabah benar-benar muncul kembali, mereka hanya menutup mata kemudian melemparkan tuduhan baru. Begitu seterusnya. Dengan demikian, sebenarnya siapa yang melumpuhkan umat? Tenaga kesehatan atau kelompok antivaksin?

Tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, dan yang lainnya) khususnya yang bertugas di RS selalu terpapar virus dan bakteri dari orang-orang sakit yang dirawatnya. Saat pendidikan profesi dokter/dokter muda/koass sebelum terjun ke RS, mereka harus mendapatkan vaksin terlebih dahulu. Tujuannya agar tidak mudah tertular penyakit dari orang sakit di RS. Atau bahkan terjadi infeksi nosokomial. Apa yang dikampanyekan kelompok antivaksin justru akan membuat para tenaga kesehatan mudah sakit sehingga menurunkan profesionalitas mereka yang dapat merugikan orang-orang sakit yang dirawatnya. Dengan demikian, sebenarnya siapa yang hendak melumpuhkan umat? Tenaga kesehatan yang mengampanyekan vaksin atau kelompok antivaksin?

Pembelaan yang dilakukan oleh kelompok antivaksin lainnya dengan mengklaim anaknya tidak mudah sakit meski tidak divaksin. Padahal kenyataannya di group FB yang tertutup mereka nampak panik dan curhat kepada penghuni group mengenai keadaan anaknya dan meminta pertolongan pengobatan kepadanya. Celakanya mereka meminta pengobatan kepada yang bukan ahlinya. Hingga mereka punya teori sendiri mata, telinga ditetesi ASI. Padahal tindakan tersebut justru merusak penglihatan si bayi. Dengan demikian, sebenarnya siapa yang hendak melumpuhkan umat? Petugas kesehatan atau kelompok antivaksin?

D. Melumpuhkan Taraf Berfikir Umat

Kelompok antivaksin selalu mengulang-ulang permasalahan yang sebenarnya sudah dijelaskan secara detail oleh para pakar. Mereka seolah-olah bukannya tidak tahu, tetapi justru malah tidak mau tahu akan ilmu. Mereka tidak mau berfikir hal-hal yang rumit. Ketika para pakar menjelaskan mengenai proses pembuatan vaksin dimulai dari pemilihan antigen, pengembangbiakan mikroorganisme, isolasi dan pemurnian mikroorganisme, inaktivasi organism, formulasi, dan kontrol kualitas, mereka seperti tidak mau membacanya. Kalaupun mau membacanya mereka tidak mau memahaminya. Mereka hanya berhenti dalam taraf pengetahuan, tidak mau sampai pada taraf pemahaman (mafahim). Begitu juga dengan kandungan vaksin yang berisi : bahan aktif, ajuvan, pelarut, stabilisator, pengawet, dan komponen-komponen trace. Semuanya telah dirinci dengan sangat jelas beserta dosis-dosis dan batas keamanannya. Mereka kelompok antivaksin tetap tidak mau tahu.

Sebenarnya perlu dimaklumi ketika antivaksin – antisains belum memahami dan tak pernah terbayangkan seperti apa suasana laboratorium karena mereka kebanyakan bukan berasal dari kalangan medis. Ketika basic pendidikan mereka bukan medis sehingga proses pembuatan vaksin semacam kultur, agar, kaldu, proses sentrifugasi dan sebagainya sama sekali tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak mereka. Ketika proses di laboratorium disamakan dengan proses di dapur, maka itulah kesalahan fatal yang pertama. Ketika pakar vaksin mengatakan pemurnian vaksin dengan cara sentrifugasi untuk memisahkan sel mati dan semacamnya, filtrasi dan “dicuci” jutaan kali dan lain sebagainya, mereka mempertanyakan bagaimana mungkin? Padahal kalau mereka ke PMI mereka pun bisa mengetahui ada kantong yang hanya trombosit, ada kantong yang berisi semua cell darah. Bagaimana cara memisahkannya? Mungkin suatu saat mereka pun akan melemparkan tuduhan bahwa tidak mungkin bisa memisahkan trombosit dalam darah manusia karena ketika darah terkena udara maka darah akan kering dan membeku. Ketika mereka buta teknologi, seharusnya mereka belajar, bukan malah melemparkan tuduhan yang justru menampakkan kedangkalan pengetahuan mereka. Pembahasan merkuri, aluminium, formalin, dan lain sebagainya diulang-ulang. Umat dibuat tumpul dalam proses berfikir sehingga apapun jawaban ahli seperti angin lalu. Artikel hoax pun disebarkan terus menerus. Dengan demikian, sebenarnya siapa yang melumpuhkan taraf berfikir umat? Tenaga kesehatan atau antivaks?

Butanya mereka terhadap ilmu kedokteran sangat nampak dan semakin nampak dari hari ke hari. Sebagai contoh lain, ketika penyidik meminta pendapat kepada dokter spesialis forensic akan kematian seseorang yang tidak lazim, apakah korban awalnya dibunuh terlebih dahulu lalu digantung, atau gantung diri lalu tewas? Apakah korban dibunuh terlebih dahulu lalu dihanyutkan ke sungai, atau korban terpeleset ke sungai kemudian tewas tanpa terjadi pembunuhan? Kemudian kapan perkiraan korban tersebut tewas? Semua itu ada ilmunya, maka dokter forensic itulah ahlinya. Kalau hal ini diserahkan kepada antivaksin-antisains, dapatkan mereka memberikan pendapatnya kepada penyidik? Apakah penyidik akan percaya keterangan orang yang tidak pernah belajar ilmu kedokteran? Lalu mengapa banyak aktifis pengajian lebih percaya kepada kelompok antivaks daripada kepada ahli kesehatan terkait masalah kesehatan? Sebenarnya siapa yang melumpuhkan taraf berfikir umat? Tenaga kesehatan atau kelompok antivaks?

E. Melumpuhkan Etika dan Tanggungjawab

Kelompok antivaksin – antisains bersemangat sekali untuk kembali kepada alam. Beberapa hadits nabi terkait pengobatan berusaha untuk kembali diaplikasikan. Namun sayangnya mereka melakukannya tanpa dilandasi ilmu sehingga justru berpotensi mencelakakan umat manusia.

Zam-zam memang air istimewa, tetapi tidak lantas bisa digunakan sebagai infuse ataupun sebagai obat injeksi. Bagi yang berpendapat zam-zam bisa digunakan sebagai infuse ataupun obat injeksi harus mendatangkan bukti. Bukti bisa berupa hadits nabi ataupun bukti Evidence Based Medicine (EBM). Keamanan zam-zam ketika dijadikan obat injeksi harus teruji terlebih dahulu. Kelompok antivaksin – antisains terlalu terburu-buru dan gegabah ketika mengutarakan pendapatnya mengenai zam-zam bisa digunakan sebagai obat injeksi. Apakah yang pernah melontarkan pendapat demikian sudah mencobanya terlebih dahulu sebelum berpendapat? Apakah aktifis pengajian akan dijadikan bahan percobaan tanpa melalui penelitian di laboratorium? Dengan demikian, sebenarnya siapa yang melumpuhkan umat? Siapa yang tak punya etika? Tenaga kesehatan atau kelompok antivaks?
Tak kalah mengerikan dengan sebelumnya. Saat tenaga kesehatan sibuk dalam mencapai Target pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015 guna menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), kaum antivaks-antisains rame-rame membuat opini PERSALINAN METODE UNASSISTED BIRTH (UB). Mereka mengatakan bahwa itulah yang sesuai syariah. Akibatnya ibu-ibu hamil dipaksa untuk melakukan persalinan spontan dan dilakukan sendiri. Tak peduli apakah terjadi plasenta previa totalis, janin letak lintang, partus macet, gawat janin, dsb. Para ibu hamil diyakinkan oleh mereka bahwa percaya kepada ilmu kedokteran modern adalah sebuah kemaksiatan, persalinan dengan tindakan SC merupakan aib, dan melakukan persalinan sendiri merupakan sunnah. Jika ada penyulit-penyulit tersebut, siapa yang akan bertanggungjawab atas nyawa ibu dan bayi? Dengan demikian, sebenarnya siapa yang melumpuhkan umat? Siapa yang tak punya etika? Tenaga kesehatan atau kelompok antivaks?

F. Melumpuhkan Militer

Kalangan militer tidak luput dari program vaksinasi. Seperti yang telah diketengahkan sebelumnya bahwa ada vaksin khusus militer. Hal ini karena militer harus punya kekebalan spesifik di mana mereka sewaktu-waktu ditugaskan untuk perang, menjadi pasukan perdamaian, atau bahkan membantu korban bencana alam. Iklim dan kondisi yang berbeda dari tempat tinggalnya mempunyai potensi infeksi tersendiri. Kondisi fisik yang terkuras karena tugas fisik yang berat juga mampu menurunkan imunitas dalam tubuh sehingga rawan terkena penyakit infeksi.

Selain kondisi geografis dan iklim, militer pun bisa saja dihadapkan dengan senjata biologis dari musuh. Ketika militer tidak pernah mendapatkan vaksin, risiko untuk terjangkitnya penyakit akibat senyata biologis tersebut semakin tinggi. Ketika musuh menggunakan virus polio sebagai senjata biologis, bagaimana nasib militer dan rakyat sipil disekitarnya kalau mereka belum pernah divaksin polio? Dengan demikian, sebenarnya siapa yang hendak melumpuhkan umat? Petugas kesehatan atau kelompok antivaksin?

G. Anti Vaksin Tidak Berhak Menjadi Pemimpin Umat

Daulah al-Khilafah merupakan pemerintahan Islam yang menjadikan pemikiran-pemikiran Islam sebagai ruh pemerintahan yang mana secara praktis al-Quran, as-Sunnah dan yang meliputi keduanya diterapkan di tengah kancah kehidupan. Daulah al-Khilafah dipimpin oleh seorang Khalifah. Kedudukan seorang khalifah adalah kedudukan yang paling agung dalam pemerintahan, kekuasaan dan kehidupan politik.

Tidak sah akad Khilafah dari umat Islam kepada seseorang tertentu kecuali jika memenuhi syarat pelaksanaan akad Khilafah. Beberapa syarat legal (in’iqad) pemimpin diantaranya ialah berakal dan adil. Maka ketika didapati seseorang yang sehat akalnya namun tidak mampu menilai mana haq dan mana hoax, mana baik dan mana buruk, mana terpuji dan mana tercela, dan pola sikapnya tidak mencerminkan sebagai orang yang mampu mengambil pola sikap Islami (nafsiyah Islamiyah), maka ia tidak berhak dicalonkan sebagai wali, apalagi Khalifah. Ia pun tidak berhak diangkat menjadi qadhi, karena ketika seseorang tidak bisa berlaku adil dalam problematika umat yang ia saksikan maka diragukan kapasitasnya ketika nantinya menjadi qadhi.

Wallahu a’lam.

Bandung, 8 Januari 2015
Yanuar Ariefudin

Referensi :

  1. Hizbut Tahrir. Struktur Negara Khilafah. HTI Press. Jakarta
  2. Keterangan di Museum Bio Farma. Kompleks Gedung Bio Farma. Pasteur, Bandung
  3. Mahmud Abd Al-Majid Al-Khalidi. Pilar-pilar Sistem Pemerintahan Islam. Al-Azhar Press. Bogor
  4. Satgas PP IDAI. Panduan Imunisasi Anak.IDAI. Jakarta

 

  1. January 11, 2015 at 8:38 am

    Reblogged this on Rumah Kedua.

  2. astri
    January 11, 2015 at 11:00 pm

    apakah anak yg belum pernah imunisasi dasar, masih bisa mengejar ketetlambatan? saat ini usia 2,5 tahun. tks

    • January 12, 2015 at 1:27 pm

      Bisa. Diskusikan dengan dokter anak terdekat.

  3. dipa
    September 18, 2015 at 8:36 pm

    Coba anda telaah website berikut :

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: