Home > Doctor4Khilafah, Seputar Vaksin > Tanggapan Atas Doktrin Gerakan Anti Vaksin

Tanggapan Atas Doktrin Gerakan Anti Vaksin

A. Pengantar

Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kelompok yang mengatasnamakan sunnah dalam pengobatan mulai bermunculan. Klaim-klaim yang dikampanyekan kelompok ini justru membuat permasalahan baru bagi kalangan umat Islam itu sendiri. Umat dijauhkan dari pakarnya dan didoktrin untuk menerima apapun yang diajarkan kepadanya sekalipun berasal dari orang yang tidak kompeten dalam bidang kesehatan maupun agama.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya menjadi bagian dari barisan harisan aaminan lil islam (penjaga Islam yang terpercaya) dengan cara tidak membuat kondisi umat Islam semakin keruh dan mengaburkan fikrah (pemikiran) Islam di tengah-tengah umat. Aktifitas tersebut justru akan menjauhkan umat dari kebangkitan Islam dan membuat persoalan umat semakin rumit. Olehkarenanya, perlu sekiranya pembahasan ini diangkat agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman atau doktrin dikalangan umat Islam itu sendiri.

B. Makanan Halal dan Thayib Bukan Penangkal Penyakit Infeksi

Terjadinya penyakit infeksi atau wabah penyakit menular tidak serta merta karena permasalahan sanitasi dan makanan halal-thayyib. Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, seorang shabat Rasulullah yang dijamin masuk surga meninggal karena wabah tha’un di Syam. Beliau seorang shalafus shalih dan belum ada beragam makanan seperti yang kita saksikan seperti sekarang ini. Sebagai seorang shahabat yang lebih tinggi keimanannya dibanding generasi sesudahnya sudah pasti menjaga diri agar hanya makan makanan yang halal dan thayib yang dikonsumsi. Namun wabah masih saja melanda.

Ada pula dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam mengajarkan agar kita berusaha mencegah penyakit menular dengan cara mengindari dan mencegahnya. Diantaranya: Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit (agar tidak menular).” (HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221). Dan Sabda beliau, “Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”. (HR. Muslim: 5380).

C. Semua Obat, Termasuk Herbal Punya Efek Samping

Makan makanan yang sehat, mengonsumsi kurma, madu, habatus sauda, dan memakan makanan yang halal sangat baik untuk menjaga tubuh tetap sehat dan tidak mudah sakit. Namun jika dosis habbatus sauda berlebihan dikonsumsi maka akan berefek negatif bagi tubuh karena habbatus sauda mengandung bahan aktif seperti thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Sehingga perlu juga dilakukan penelitian mengenai dosis dan indikasinya atau pengobatan dengan habbatus sauda yang dilakukan oleh ahlinya yang mengetahui metode pengobatan dan berpengalaman. Kita percaya bahwa habbatus sauda adalah obat segala penyakit, tetapi orang yang meramu dan melakukan pengobatannya juga harus ahli.

Apa yang dilakukan oleh kedokteran modern dengan mengakui keterbatasan ilmu dan teknologi bukanlah suatu aib karena kedokteran modern berangkat dari Evidence Based Medicine (EBM). Adanya efek samping obat tertentu dan indikasi pada keadaan tertentu telah dijelaskan secara detail. Hal ini membuktikan bahwa setiap senyawa yang punya kemampuan mengobati penyakit tertentu juga punya efek simpang tertentu. Tidak ada senyawa yang bebas efek samping sekalipun itu herbal.

“All substances are poison. There is none that is not poison, theright dose and indication deferentiate a poison and a remedy”

“Semua zat adalah (berpotensi menjadi) racun. Tidak ada yang tidak (berpotensi menjadi) racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya apakah ia racun atau obat”
(Toksikologi hal. 4, Bag Farmakologi dan Toksikologi UGM, 2006)

Hal ini sesuai dengan pembahasan mengenai hadits riwayat Bukhari Muslim : “Ada seseorang menghadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya (dalam riwayat lainnya: sakit diare).’ Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’ Nabi bersabda: ‘Allah Maha Benar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.’ Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan mengenai hadits ini, “Memberikan minum madu dengan berulang kali menunjukkan mengenai ilmu kedokteran, yaitu obat harus sesuai dosis dan jumlahnya sesuai dengan keadaan penyakitnya.” (Thibbun Nabawi hal 29, Darul Hilal, Beirut)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullahu menjelaskan hadits ini, “Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik, karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.” (Fathul Baari 10/169-170, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379H, Asy-Syamilah).

D. Nabi Tidak Diutus Menjadi Ahli Pengobatan

Buku karya Jerry D. Gray dengan judul “Rasulullah is My Doctor” mengesankan seolah Rasulullah adalah seorang dokter. Sehingga umat diajak berbondong-bondong untuk menolak pengobatan selain yang telah Rasulullah sampaikan.

“Dari Sahabat Sa’ad mengisahkan, pada suatu hari aku menderita sakit, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku, beliau meletakkan tangannya di antara kedua putingku, sampai-sampai jantungku merasakan sejuknya tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau menderita penyakit jantung, temuilah Al-Harits bin Kalidah dari Bani Tsaqif, karena sesungguhnya ia adalah seorang tabib. Dan hendaknya dia (Al-Harits bin Kalidah) mengambil tujuh buah kurma ajwah, kemudian ditumbuk beserta biji-bijinya, kemudian meminumkanmu dengannya.” (HR. Abu Dawud no.2072)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu ramuan obat yang sebaiknya diminum, akan tetapi beliau tidak meraciknya sendiri tetapi meminta sahabat Sa’ad radhiallahu ‘anhu agar membawanya ke Al-Harits bin Kalidah sebagai seorang tabib. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tahu ramuan obat secara global saja dan Al-Harits bin Kalidah sebagai tabib mengetahui lebih detail komposisi, cara meracik, kombinasi dan indikasinya.

Jadi pengobatan yang diberi petunjuk oleh Islam dalam thibbun nabawi bukan satu-satunya cara untuk berikhtiar mencapai kesembuhan, metode pengobatan lainnya juga bisa digunakan untuk mencapai kesembuhan atas izin Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika pengobatan sudah teruji dan terbukti melalui penelitian dan eksperimen, artinya lebih banyak yang sembuh menggunakannya dari pada yang tidak sembuh.

E. Makna : Antum A’lamu bi Amri Dunyakum

Ilmu kedokteran bukan hukum syara’, sehingga ilmu kedokteran termasuk dalam perkara dunia. Kedokteran modern tidak sesuai syara’ dan haram diaplikasikan hanyalah klaim yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Dari Anas ra. dituturkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. pernah melewati satu kaum yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Beliau lalu bersabda, “Andai kalian tidak melakukan penyerbukan niscaya kurma itu menjadi baik.” Anas berkata: Pohon kurma itu ternyata menghasilkan kurma yang jelek. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. suatu saat melewati lagi mereka dan bertanya, “Apa yang terjadi pada kurma kalian?” Mereka berkata, “Anda pernah berkata demikian dan demikian.” Beliau pun bersabda, “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (HR Muslim).

Penjelasan :

Pertama : Hadis dari penuturan Musa bin Thalhah dari bapaknya yang berkata: Aku pernah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. melewati satu kaum yang sedang ada di atas pohon kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa yang mereka lakukan?” Mereka berkata, “Mereka sedang melakukan penyerbukan kurma (yakni) menjadikan bunga jantan di atas bunga betina sehingga terserbuki.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. lalu bersabda, “Saya duga itu tidak berguna sedikit pun.” Thalhah berkata: Lalu mereka diberitahu hal itu. Kemudian mereka meninggalkan (penyerbukan itu). Selanjutnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. diberitahu hal itu. Lalu beliau bersaba, “Jika hal itu berguna bagi mereka maka hendaklah mereka lakukan, sebab aku tidak lain hanya menduga. Jadi jangan kalian menyalahkan aku karena dugaan itu. Namun, jika aku berbicara kepada kalian sesuatu dari Allah maka ambillah karena aku tidak akan pernah mendustai Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Muslim).

Kedua : Hadis dari penuturan Rafi’ bin Khadij yang berkata: Nabiyullah shalallahu ‘alaihi wassalam. datang ke Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) sedang melakukan penyerbukan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mereka berkata, “Kami sedang melakukan penyerbukan kurma.” Beliau bersabda, “Andai tidak kalian lakukan, itu mungkin lebih baik.” Lalu mereka meninggalkan aktivitas penyerbukan itu. Kemudian ternyata pohon kurma itu berbuah buruk atau berkurang buahnya. Rafi’ bin Khadij berkata: Lalu mereka mengabarkan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda, “Aku ini seorang manusia. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu dari agama kalian maka ambillah. Jika aku memerintahkan kalian dengan sesuatu berupa pendapat (ra’yu) maka aku hanyalah seorang manusia.” (HR Muslim).

Kedua hadis ini menjelaskan hadis di atas. Kedua hadis ini dengan jelas memasukkan masalah penyerbukan kurma itu bagian dari perkara dunia. Dalam hal perkara sejenis inilah, sabda Rasul, “Antum a’lamu bi amri dunyakum (kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian),” berlaku.

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahîh Muslim: Para ulama berkata, “Sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam. min ra’y[in] (berupa pendapat) artinya dalam perkara dunia dan ma’ayisy (mata pencaharian/penghidupan), bukan sebagai tasyri’.

Islam tidak datang mengatur amru dunya, yakni masalah teknis dan semacamnya itu secara detil. Islam hanya mengatur perkara itu melalui hukum-hukum umum. Detil teknis dan perkara eksperimental itu bisa dipilih sesuai hasil eksperimen, pengalaman, menurut situasi dan keadaan (seperti pola irigasi, rotasi tanaman, teknis produksi, cara manufaktur, dsb) selama dalam batas-batas koridor hukum-hukum syariah. Adapun dalam perkara-perkara agama, termasuk di dalamnya perkara tasyri’, wajib hanya mengambil dan menerapkan apa yang dibawa oleh Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam, yaitu syariah Islam saja.

F. Penutup

Berbagai tanggapan di atas adalah kumpulan dari tulisan sejawat yang dirangkum dan disusun untuk efisiensi maksud dan tujuan agar memudahkan siapa saja yang hendak mempelajarinya. Bagi yang ingin mendapatkan artikel secara utuh bisa merujuk ke referensi tulisan ini. Semoga Allah memberikan kita pengetahuan yang lurus agar tidak mudah mengikuti arus yang tidak benar. Karena menjadi bijak itu perlu ilmu dan pengalaman. Wallahu a’lam.

Jumat Berkah
Bandung, 23 Januari 2015
dr. Yanuar Ariefudin

Referensi

  1. Raehanul Bahraen. Habbatus Sauda Juga Mengandung Zat Kimia. link muslimafiyah.com
  2. Raehanul Bahraen. Hadits Mengenai Menyembuhkan Diare dengan Minum Madu. link muslimafiyah.com
  3. Raehanul Bahraen. Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan? link muslimafiyah.com
  4. Raehanul Bahraen. Sekedar Makanan Halal dan Thayyiba Tidak Bisa Mencegah (Menjamin) Dari Wabah Penyakit. link muslimafiyah.com
  5. Yahya Abdurrahman. Makna “Antum A’lamu Bi Amri Dunyakum”. Majalah Al-Waie. Jakarta.
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: