Home > Notes > Kelahiran Nabi

Kelahiran Nabi

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dilahirkan di pemukiman bani Hasyim di kota Makkah, di waktu pagi hari pada hari senin, tanggal 9 atau ada yang mengatakan tanggal 12, pada bulan Rabbiul Awwal di tahun Gajah. Jadi tanggal lahir yang pertama (tanggal 9) adalah yang paling benar, sedangkan tanggal lahir kedua (tanggal 12) adalah yang paling masyhur, yakni bertepatan dengan tanggal 22 April 571 Masehi.

Kelahiran beliau ditangani oleh Syifa’ binti ‘Amr. Ibu dari shahabat Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhu. Abdul Muthalib, kakek nabi dengan perasaan gembira dan bahagia membawa sang bayi memasuki ka’bah, bersyukur kepada Allah, medoakan bayi tersebut, kemudian memberi nama kepadanya Muhammad (yang terpuji) dengan harapan bayi tersebut akan terpuji.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga nama Muhammad ini dari ketenaran (dijadikan nama oleh banyak orang). Sehingga hanya ada 6 orang anak yang bernama Muhammad, yaitu Muhammad bin Ashbahah, Muhammad bin Maslamah, Muhammad bin Barra’, Muhammad bin Sufyan, Muhammad bin Hamran, Muhammad bin Khuzaah. Sebab, di dalam kitab samawi dikabarkan bahwa nabi yang ditungu-tunggu itu bernama Muhammad.Sehingga mereka oleh orangtuanya dinamai Muhammad agar anaknya kelak menjadi nabi yang selama ini mereka tunggu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga setiap anak yang bernama Muhammad untuk tidak mengaku sebagai nabi.

Nabi shalallahu alaihi wassalam diasuh oleh Ummu Aiman, bekas budak dari Abdullah, ayah nabi. Kemudian Ummu Aiman sempat hidup hingga masuk Islam, lalu berhijrah.

Yang pertama menyusui Nabi shalallahu alaihi wassalam setelah ibundanya adalah Tsuwaibah, budak dari Abu Lahab, dengan air susu yang juga digunakan untuk menyusui anaknya bernama Masruh. Kemudian Abu Lahab membebaskan budaknya itu sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Imam Nashiruddin ad Dimasyqiy dalam Kitab Mawrid al Shaadiy fi Maulid al Haadiy berkata, “Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Oleh karena itu, benarlah Abu Lahab diringankan dari siksa api neraka pada setiap hari senin”. Lalu Imam Nashiruddin ad Dimasyqiy bersenandung, “…Jika orang kafir ini (Abu Lahab), tersebut (keterangan dalam al-Quran) celaan atas dirinya, dan kedua tangannya binasa di neraka selama-lamanya, dan telah datang berita bahwa setiap hari senin ia selalu diringankan siksanya karena kegembiraannya atas kelahiran nabi shalallahu alaihi wassalam. Lantas bagaimana keadaan orang yang sepanjang umurnya gembira atas kelahiran nabi shalallahu alaihi wassalam dan mati dalam keadaan beriman…” (Mawrid al Shaadiy fi Maulid al Haadiy. Hal. 14). Imam Nashiruddin ad Dimasyqiy termasuk ulama yang membolehkan perayaan maulid nabi selama didalamnya tidak terdapat kemaksiatan.

Referensi
1. Amalan Sholeh yang Dianggap Bid’ah karya Fathiy Syamsuddin Ramadlan
2. Sirah Nabawiyah karya Prof. DR. Muh. Rawwas Qol’ahji
3. Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfurry

Malam hari di Tegal, 11 Rabbiul Awwal 1437H/22 Desember 2015

Categories: Notes
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: